PT Panin Asset Management (Panin AM) menegaskan komitmennya mengintegrasikan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan strategi bisnis berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), seiring meningkatnya tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan di industri jasa keuangan.
Associate Director Panin Asset Management, Jessica Maria P. Gultom, mengatakan CSR di perusahaan manajer investasi memiliki karakter berbeda dibanding industri berbasis sumber daya alam. Karena itu, Panin AM memusatkan kontribusinya pada sektor pendidikan, terutama literasi keuangan.
“Sebagai perusahaan jasa keuangan, tanggung jawab sosial kami berbeda dengan industri berbasis sumber daya alam. Fokus utama kami adalah edukasi dan literasi keuangan sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat,” ujar Jessica dalam ajang penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Jumat (27/3/2026).
Panin AM memiliki visi “Untuk menjadi Rekan Terpercaya bagi Akumulasi Aset Jangka Panjang nasabah” dan misi “Untuk membantu nasabah mencapai tujuan finansial dengan menyediakan produk dan jasa sesuai dengan ketentuan nasabah.” Perusahaan manajer investasi ini berdiri sejak 1997 dan disebut memiliki spesialisasi pada produk reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.
Saat ini, Panin AM mengelola berbagai produk reksa dana, meliputi Saham, Campuran, Pendapatan Tetap, Pasar Uang, ETF, dan Terproteksi. Per Februari 2026, dana kelolaan atau asset under management (AUM) perusahaan tercatat sebesar Rp15,9 triliun.
Jessica menekankan, CSR di Panin AM tidak diposisikan sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian integral dari strategi perusahaan untuk membangun keberlanjutan bisnis. Hal tersebut tercermin dari tema perusahaan, Creating Long-Term Value with Responsibility, yang menekankan pentingnya tanggung jawab dalam menciptakan nilai jangka panjang.
Menurutnya, keterlibatan manajemen puncak menjadi kunci agar implementasi CSR berjalan efektif dan sejalan dengan arah bisnis. “Top management kami tidak hanya memberikan arahan strategis, tetapi juga terlibat langsung dalam program CSR. Ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan sudah menjadi bagian dari DNA perusahaan,” ujarnya.
Sejumlah program CSR yang disebut telah dijalankan antara lain beasiswa pendidikan untuk mahasiswa dan mahasiswa disabilitas, beasiswa pendidikan untuk anak di daerah timur, santunan untuk anak dengan kondisi kritis, serta kegiatan pelestarian lingkungan melalui penanaman 2.700 mangrove dan 100 baby coral.
Di sisi investasi, Panin AM menyatakan telah mengintegrasikan prinsip ESG dalam pengambilan keputusan, termasuk melalui penerapan ESG scoring terhadap emiten yang masuk dalam portofolio. Langkah ini ditujukan agar dana kelolaan tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.
Pendidikan jadi pilar utama
Panin AM menempatkan sektor pendidikan sebagai pilar utama CSR, dengan alokasi sekitar 70%–80% dari total program. Kegiatan yang dilakukan mencakup pemberian beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan kurang mampu, beasiswa khusus bagi mahasiswa disabilitas, serta program edukasi dan literasi keuangan.
Sepanjang 2025, perusahaan mencatat lebih dari 100 penerima beasiswa dan sekitar 4.000 peserta program literasi keuangan. Jessica menyebut literasi keuangan sebagai fondasi untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem industri keuangan. “Kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya paham keuangan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari ekosistem tersebut, termasuk sebagai investor masa depan. Makanya sasaran kami banyak juga dari kalangan mahasiswa,” katanya.
Integrasi investasi dengan dampak sosial
Panin AM juga mengembangkan pendekatan yang mengaitkan produk investasi dengan dampak sosial, yakni dengan mengalokasikan sebagian fee dari produk reksa dana tertentu untuk kegiatan CSR. Sejak 2017, total kontribusi CSR perusahaan disebut telah mencapai sekitar Rp8 miliar dan diformalkan dalam inisiatif Panin AM Berbagi sejak 2024.
Jessica menegaskan perusahaan tidak ingin CSR berhenti pada donasi. “Kami tidak ingin CSR hanya berhenti pada charity. Kami memastikan ada dampak yang terukur dan berkelanjutan dari setiap program yang dijalankan,” ujarnya.
Untuk memperkuat akuntabilitas, Panin AM menerapkan tata kelola CSR, antara lain melalui three lines of defense, integrasi CSR dalam task force ESG, sistem pelaporan berbasis data dari mitra program, serta publikasi kegiatan CSR kepada nasabah dan regulator. Mitra CSR juga diwajibkan menyampaikan laporan berbasis output, outcome, dan impact.
Perusahaan turut melibatkan karyawan melalui program volunteer hours, dengan total keterlibatan 549 jam sepanjang 2025. Ke depan, Panin AM menyatakan akan memperluas jangkauan program CSR, terutama di literasi keuangan dan pengembangan sumber daya manusia sektor keuangan, sekaligus memperkuat integrasi ESG dalam investasi.
Panin AM Berbagi dan tiga pilar program
Jessica menjelaskan, CSR Panin AM dikemas dalam program unggulan Panin AM Berbagi yang berfokus pada dampak berkelanjutan. Program ini memiliki tiga pilar, yakni Pendidikan melalui penyaluran beasiswa berbasis prestasi, kurang mampu, dan disabilitas; Lingkungan melalui penanaman 2.700 mangrove, 100 baby coral di Kepulauan Seribu, serta kampanye lingkungan; dan Kemanusiaan berupa bantuan sosial serta dukungan fasilitas penunjang.
Menurutnya, program tersebut ditujukan untuk meningkatkan akses pendidikan, mendorong pelestarian lingkungan melalui aksi nyata, serta menjangkau komunitas rentan melalui kontribusi sosial langsung. Jessica juga menyebut program ini berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan mendukung strategi bisnis perusahaan.
Penguatan budaya ESG di internal
Selain program eksternal, Panin AM menyatakan memperkuat implementasi ESG di internal organisasi. Perusahaan menyebut pelatihan ESG telah diikuti sekitar 80% karyawan, dengan tingkat pemahaman mencapai 97%.
Panin AM juga mulai mengembangkan inisiatif menuju net zero emission, termasuk penghitungan emisi karbon dari aktivitas operasional dan mobilitas karyawan. Perusahaan menyatakan telah mengintegrasikan risiko keberlanjutan dalam manajemen risiko, termasuk penerapan prinsip ESG dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan aktivitas bisnis berbasis risiko.
Dalam penguatan tata kelola, Panin AM menyebut mengadopsi ISO 9001 untuk manajemen mutu, ISO 27001 untuk keamanan informasi, dan ISO 37001 untuk anti penyuapan. Jessica mengatakan identifikasi, penilaian, dan pengelolaan risiko keberlanjutan dilakukan melalui pemantauan regulasi, analisis risiko ESG secara berkala, serta evaluasi aspek terkait keberlanjutan, yang kemudian menjadi dasar mitigasi risiko.
Di tingkat operasional, perusahaan juga menjalankan konsep Green Operation, antara lain melalui kampanye kesadaran lingkungan lewat email internal, pemisahan sampah organik dan anorganik, serta mematikan lampu saat jam istirahat siang (12.00–13.00).
“Ke depan, kami ingin memastikan bahwa setiap program yang kami jalankan tidak hanya relevan hari ini, tetapi juga memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” kata Jessica.