Peran influencer dalam pemasaran digital kian menentukan arah persepsi dan keputusan belanja masyarakat. Di tengah arus informasi yang cepat, influencer menjadi salah satu kanal utama promosi berbagai produk, termasuk produk lokal. Namun, pengaruh tersebut tidak selalu berdampak seimbang bagi perekonomian nasional: di satu sisi dapat mengangkat produk dalam negeri, sementara di sisi lain berpotensi mendorong preferensi berlebihan pada produk asing.
Sejumlah penelitian menunjukkan influencer dapat menjadi penghubung efektif antara produk lokal dan konsumen. Kurniawan dan Suhaimi (2021) mencatat dukungan influencer lokal berpengaruh signifikan terhadap persepsi kualitas serta minat beli konsumen pada produk UMKM Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa bila digunakan secara strategis, influencer dapat membantu memperluas jangkauan pasar dan memperkuat posisi produk lokal di mata publik.
Dampak serupa juga terlihat pada sektor lain. Dalam industri kecantikan, Sari, Sumarwan, dan Munandar (2024) menemukan bahwa kecocokan gaya hidup antara influencer dan audiens dapat meningkatkan citra merek serta keinginan membeli produk skincare lokal. Sementara di sektor kuliner, Fitri, Kusumawati, dan Aprilianty (2021) menyebut micro-influencer dengan tingkat kepercayaan tinggi dapat mendorong niat beli terhadap produk makanan lokal melalui media sosial seperti Instagram.
Meski demikian, praktik promosi tidak selalu berorientasi pada penguatan produk dalam negeri. Dalam beberapa kasus, produk luar negeri dipromosikan secara masif tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pelaku usaha lokal. Thamrin dan Utami (2023) menyoroti pergeseran konsumsi masyarakat ke produk asing yang kerap dipicu narasi influencer yang kurang selektif, sehingga publik cenderung lebih percaya pada produk luar dibanding produk lokal.
Kondisi ini berisiko menurunkan minat beli terhadap produk dalam negeri dan memicu ketergantungan pada barang impor. Jika berlangsung terus, dampaknya dapat terlihat pada melemahnya daya saing pelaku usaha lokal, terutama UMKM yang selama ini menjadi penopang penting perekonomian nasional.
Selain soal pilihan produk yang dipromosikan, kesesuaian influencer dengan karakter merek juga menjadi faktor krusial. Sari dkk. (2024) menekankan bahwa influencer yang tidak merepresentasikan gaya hidup target konsumen justru dapat menurunkan kepercayaan terhadap produk yang diiklankan. Karena itu, pelaku usaha dan brand lokal perlu lebih selektif dalam menentukan kerja sama, tidak semata berdasarkan jumlah pengikut, tetapi juga keselarasan nilai, citra diri, dan audiens influencer dengan identitas merek.
Berbagai temuan tersebut memperlihatkan influencer memiliki dua sisi: dapat menjadi agen penguatan produk lokal, namun juga berpotensi menjadi faktor yang melemahkan jika promosi dilakukan tanpa pertimbangan. Pada akhirnya, dibutuhkan kesadaran bersama dari influencer, pelaku usaha, dan masyarakat agar promosi digital menjadi sarana memperkuat ekonomi nasional, bukan sebaliknya, dengan menempatkan etika, transparansi, dan kehati-hatian dalam memilih produk sebagai bagian dari praktik pemasaran.

