Di tengah upaya Indonesia memperluas literasi keuangan secara merata, berbagai persoalan seperti maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online justru menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya tantangan dalam pemahaman dan pengambilan keputusan finansial di masyarakat.
Ananda Ramadhani, analis di Departemen Perasuransian dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai literasi keuangan yang baik mencerminkan kualitas pengambilan keputusan finansial yang dilakukan secara sadar. Ia merujuk temuan yang menyebutkan adanya korelasi bahwa inklusi keuangan berbanding lurus dengan tingkat literasi keuangan (Ariefin, Bulkia, & Hakim, 2023).
Menurutnya, untuk mencapai tingkat literasi keuangan yang optimal, langkah awal perlu dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Dari lingkungan keluarga, pemahaman mengenai pengelolaan uang, risiko, serta pilihan produk dan layanan keuangan dapat dibangun sejak dini.