Jakarta – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali meningkat dan memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk aset kripto. Sejak 14 Oktober 2025, AS resmi mengenakan biaya khusus terhadap kapal asal Tiongkok yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Amerika. Sebagai respons, Beijing juga berencana menerapkan kebijakan serupa terhadap kapal berbendera atau bermuatan kepemilikan AS.
Babak baru perang dagang ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor terhadap Tiongkok hingga 100 persen. Tiongkok kemudian membalas dengan pembatasan ekspor mineral langka yang dinilai vital bagi industri teknologi global.
Di tengah eskalasi tersebut, pelaku industri kripto turut mencermati dampaknya terhadap pergerakan harga dan perilaku investor. COO Upbit Indonesia Resna Raniadi mengatakan konflik dagang dua negara itu ikut mendorong volatilitas di pasar kripto.
“Perang dagang AS–Tiongkok yang semakin panas belakangan ini memang mempengaruhi pasar keuangan global, dan kripto tidak kebal. Krisis likuiditas, efek sentimen negatif, serta likuidasi posisi leverage bisa memicu penurunan harga yang tajam dalam jangka pendek,” ujar Resna, Selasa (21/10).
Meski demikian, ia menilai koreksi tidak serta-merta menandai berakhirnya prospek aset kripto. Menurutnya, peluang pemulihan tetap terbuka jika ketegangan mereda atau muncul kabar yang menenangkan pasar.
“Rebound sangat mungkin terjadi jika ketegangan mereda atau muncul berita positif. Seperti pasar tradisional, kripto juga sensitif terhadap sentimen global. Namun, justru dalam situasi seperti ini investor perlu disiplin dalam mengelola risiko,” tambahnya.
Upbit Indonesia memproyeksikan pergerakan harga aset kripto dalam pekan ini masih berada dalam fase fluktuatif karena sangat dipengaruhi kabar makroekonomi global. Tekanan jual disebut berpotensi berlanjut apabila ketegangan AS–Tiongkok meningkat, terutama jika muncul kebijakan lanjutan seperti kenaikan tarif baru atau pembalasan tambahan dari kedua pihak.
Di sisi lain, peluang rebound dinilai tetap terbuka apabila ada sinyal positif, seperti pernyataan de-eskalasi, gencatan perang dagang sementara, atau intervensi kebijakan moneter yang mampu menenangkan pasar. Secara umum, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, dengan potensi tekanan pada awal pekan dan peluang pemulihan di paruh akhir minggu.
Menyikapi kondisi pasar yang bergejolak, Upbit Indonesia menyarankan sejumlah langkah bagi investor. Pertama, membatasi risiko dan menghindari penggunaan leverage berlebihan, termasuk memanfaatkan fitur stop loss serta tidak menggunakan dana darurat untuk aktivitas trading. Kedua, melakukan diversifikasi portofolio dengan menjaga sebagian aset dalam bentuk fiat atau stablecoin serta memilih aset kripto yang dinilai memiliki fundamental kuat dan komunitas aktif.
Ketiga, investor diimbau tidak melakukan panic selling karena koreksi dianggap bagian dari siklus pasar. Keempat, fokus pada visi jangka panjang, terutama bagi investor yang menilai adopsi blockchain akan terus berkembang, sehingga gejolak saat ini dipandang sebagai fase konsolidasi sebelum pertumbuhan berikutnya.

