Sistem ekonomi kapitalis telah menjadi fondasi perekonomian global selama beberapa abad. Bertumpu pada kepemilikan pribadi atas alat produksi dan mekanisme pasar bebas, kapitalisme kerap dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi serta dorongan inovasi.
Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah ekonom, sosiolog, dan pemikir kritis menilai kapitalisme menyimpan ketegangan serta kelemahan struktural yang dapat mengancam keberlangsungannya dalam jangka panjang. Prediksi mengenai kemungkinan runtuhnya kapitalisme dipandang sebagai peringatan, bukan kepastian, bahwa sistem ini dapat menghadapi batas-batasnya sendiri.
Salah satu sorotan utama adalah ketimpangan ekonomi yang cenderung meningkat. Dalam sistem yang menempatkan kepemilikan modal sebagai sumber utama akumulasi kekayaan, sebagian kecil populasi dapat menguasai porsi besar sumber daya ekonomi. Ketimpangan ini dinilai bukan hanya memunculkan ketidakadilan sosial, tetapi juga berpotensi menghambat konsumsi massa yang menjadi basis pasar. Ketika mayoritas masyarakat memiliki daya beli rendah, permintaan barang dan jasa dapat menurun dan memicu perlambatan ekonomi hingga resesi berkepanjangan.
Selain itu, kapitalisme dikenal memiliki pola krisis yang bersifat siklis, berupa fase boom dan bust. Peristiwa seperti Depresi Besar 1929 dan krisis finansial 2008 kerap dijadikan contoh bagaimana pasar bebas dapat gagal mengatur diri secara efektif. Ketika spekulasi berlebihan, gelembung aset, dan ketidakseimbangan keuangan terjadi, dampaknya dapat meluas ke seluruh sektor ekonomi dan kehidupan sosial. Jika kegagalan pasar semacam ini terus berulang tanpa perubahan struktural, kepercayaan publik terhadap kapitalisme disebut berisiko semakin menurun.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah eksploitasi sumber daya alam dan krisis lingkungan. Pertumbuhan ekonomi dalam kerangka kapitalisme dinilai sangat bergantung pada pemanfaatan sumber daya yang intensif. Di sisi lain, dunia menghadapi tekanan lingkungan seperti perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan kepunahan massal. Ketidakmampuan sistem untuk menginternalisasi biaya lingkungan dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan dipandang dapat memicu bencana ekologis yang mengganggu aktivitas ekonomi serta menimbulkan ketidakstabilan sosial.
Ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan juga disebut dapat berujung pada ketidakstabilan sosial dan politik. Ketika kelompok masyarakat yang terdampak merasa terpinggirkan dan kehilangan harapan, risiko protes, konflik sosial, serta instabilitas politik dapat meningkat. Jika pemerintah dan institusi tidak mampu merespons kebutuhan masyarakat, legitimasi terhadap sistem kapitalis dinilai berpotensi terus melemah.
Meski kapitalisme disebut telah mendorong kemajuan teknologi dan kesejahteraan material bagi sebagian manusia, berbagai ketegangan internal—mulai dari ketimpangan yang melebar, krisis siklis, eksploitasi lingkungan, hingga instabilitas sosial—dipandang sebagai sinyal risiko terhadap keberlanjutan sistem tersebut. Dalam kerangka itu, wacana runtuhnya kapitalisme disampaikan sebagai dorongan untuk mempertimbangkan alternatif sistem ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan inklusif.

