PT Rintis Sejahtera selaku pengelola jaringan PRIMA menyatakan komitmennya untuk mendukung keamanan transaksi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Untuk memperkuat sistem keamanan dalam ekosistem pembayaran, PRIMA memperkuat kolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk PT Bank Central Asia (BCA).
SEVP Information Systems Security Rintis Sejahtera, Jeffrey Sukardi, mengatakan pihaknya aktif memantau dan mendeteksi anomali transaksi guna mencegah tindak kejahatan siber. Ia menyebut pemantauan tersebut dilakukan melalui sistem deteksi kecurangan (fraud detection system) yang juga dimanfaatkan untuk mendukung mitra.
“Kami bekerja sama dan mendukung mitra kami untuk memantau serta mendeteksi anomali transaksi pada fraud detection system kami. Upaya ini penting agar mitra kami dapat segera menanggulangi jika terjadi penipuan dan memastikan nasabah tetap aman dalam bertransaksi,” kata Jeffrey dalam acara media gathering di Greyhound Cafe, Menteng, Jakarta, Rabu (27/8).
Sementara itu, Vice President BCA Sugianto Wono menyampaikan bahwa BCA menerapkan sejumlah aspek, yakni people, process, dan technology, dalam melindungi data pribadi nasabah. Menurutnya, tantangan masih banyak muncul dari aspek people, terutama terkait kelalaian individu yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Sugianto merujuk catatan 2023 Cost of Insider Risk Global Report dari Ponemon Institute dan Forbes 2024 yang menyebut insiden kejahatan siber yang paling sering terjadi meliputi penipuan individu melalui social engineering dan phishing, serta ancaman yang berasal dari orang dalam organisasi.
Selain itu, Sugianto menyoroti maraknya kasus base transceiver station (BTS) palsu, yakni perangkat yang menyamar sebagai menara seluler resmi untuk mengirim SMS palsu seolah-olah berasal dari bank atau operator seluler. Menurutnya, BTS palsu umumnya digunakan untuk mengarahkan korban mengakses tautan phishing dan menyerahkan informasi pribadi.
Ia juga menyebut pelaku kejahatan siber memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat rekaman video, foto, dan audio. Tujuannya untuk menyamar sebagai korban agar dapat memperoleh data pribadi atau mengakses serta mengaktifkan akun keuangan.
“Di BCA, kami percaya bahwa perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama, antara institusi dan masyarakat,” ujar Sugianto.
Dalam upaya memperkuat sistem keamanan, Sugianto mengatakan BCA mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang sejalan dengan prinsip etika dan kepatuhan. BCA mengembangkan deteksi dini berbasis AI melalui sistem fraud detection dan machine learning untuk mengidentifikasi potensi ancaman siber secara langsung.
BCA juga menerapkan prinsip zero trust, multi-layered authentication, serta melakukan audit keamanan secara berkala untuk memastikan sistem tetap terlindungi dari berbagai bentuk serangan.
Meski demikian, Sugianto menegaskan aspek people masih menjadi titik rentan yang paling sering dimanfaatkan pelaku. Karena itu, BCA aktif melakukan edukasi publik melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk kampanye nasional bertajuk “Don’t Know? Kasih No!” yang mengajak masyarakat berpikir kritis dan tidak sembarang mengakses informasi yang sumber maupun kredibilitasnya belum jelas.
“Karena itu, kami terus memperkuat sistem keamanan internal sekaligus mengedukasi nasabah agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital,” kata Sugianto.

