BERITA TERKINI
Proyeksi 2026: Pasar Obligasi Diperkirakan Tetap Ramai, Tenor Pendek Lebih Diminati

Proyeksi 2026: Pasar Obligasi Diperkirakan Tetap Ramai, Tenor Pendek Lebih Diminati

Jakarta — Tren penerbitan obligasi diperkirakan masih akan ramai dan tetap menjadi pilihan korporasi untuk menghimpun dana, baik untuk refinancing maupun ekspansi bisnis. Dengan kondisi tersebut, proyeksi pasar obligasi pada 2026 dinilai masih menarik, dengan kecenderungan minat investor mengarah ke obligasi berjangka pendek.

Head of Research and Market Information Departemen PT Penilai Harga Efek Indonesia, Salvian Fernando, mengatakan hingga 2026 pasar obligasi masih terlihat optimistis. Menurutnya, kondisi pasar saat ini dapat menjadi pedoman bahwa industri obligasi pada 2026 masih berpotensi meningkat.

Ia menambahkan, sejak awal tahun pelaku pasar menunjukkan kepercayaan terhadap pasar obligasi, tercermin dari pergerakan pasar hingga September. Salvian menilai situasi tersebut berpeluang bertahan hingga akhir tahun.

Dalam situasi pasar yang sudah cenderung bullish sejak awal tahun, Salvian menilai sebagian investor berada dalam tren taking profit. Ia menyebut langkah defensif dalam kondisi tersebut juga dapat dipertimbangkan.

Sejalan dengan itu, minat investor saat ini disebut lebih condong pada obligasi jangka pendek. Salvian menyampaikan bahwa obligasi dengan tenor di bawah lima tahun masih dinilai menarik. Ia juga menyoroti bahwa rata-rata penerbitan obligasi, termasuk obligasi pemerintah dan ritel, cenderung berada pada tenor yang relatif pendek.

Salvian mengimbau masyarakat yang ingin membeli obligasi agar memperhatikan imbal hasil (yield) dan tenor untuk mengukur kesesuaian dengan ekspektasi. Selain itu, investor juga perlu mencermati frekuensi pembayaran kupon, karena beberapa obligasi menawarkan kupon dengan periode 3 hingga 4 bulan.

Ia juga mengingatkan adanya ketentuan lain seperti opsi beli dan opsi jual. Menurutnya, terdapat obligasi ritel yang tidak dapat dijual di pasar sehingga investor harus menunggu hingga jatuh tempo.

Di sisi lain, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, sebelumnya menyampaikan bahwa penerbitan obligasi di pasar modal telah mencapai 134 emisi dari 70 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) sepanjang 2025 hingga 26 September 2025. Total dana yang dihimpun tercatat sebesar Rp156,4 triliun. Hingga tanggal tersebut, terdapat 20 emisi dari 15 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline.

Rencana penerbitan obligasi dan sukuk paling banyak disampaikan oleh perusahaan dari sektor finansial dan energi. Ramainya penerbitan obligasi korporasi itu terjadi di tengah tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. Dalam Rapat Dewan Gubernur bulan ini, BI menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%.

Secara kumulatif hingga September 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sepanjang tahun ini hingga mencapai level terendah sejak Oktober 2022. Investment Analyst Capital Asset Management, Martin Aditya, seperti dikutip Bisnis, menyatakan bahwa seiring penurunan suku bunga acuan, permintaan obligasi korporasi masih kuat, terutama untuk memenuhi kebutuhan manajer investasi pada reksadana pasar uang dan pendapatan tetap.