BERITA TERKINI
Saat Ekonomi Bergejolak, Mana yang Didahulukan: Investasi, Dana Darurat, atau Uang Tunai?

Saat Ekonomi Bergejolak, Mana yang Didahulukan: Investasi, Dana Darurat, atau Uang Tunai?

Tekanan ekonomi global kembali meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut turut memicu kenaikan biaya logistik, inflasi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS.

Situasi ini berdampak pada daya beli masyarakat yang tertekan, sementara ketidakpastian terhadap pendapatan juga meningkat di berbagai sektor. Di tengah kondisi tersebut, pengelolaan keuangan pribadi menjadi krusial, terutama saat menentukan prioritas antara investasi, dana darurat, atau memperbanyak uang tunai.

Perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, mengatakan keputusan terbaik sangat bergantung pada stabilitas kondisi keuangan masing-masing individu. Menurutnya, masyarakat yang penghasilannya masih stabil dan mampu menghadapi gejolak ekonomi tetap dapat berinvestasi untuk jangka panjang.

“Jika memang kita secara income tetap stabil dan mampu menghadapi gejolak situasi keuangan saat ini, maka kita bisa melakukan investasi rutin untuk jangka panjang untuk mendapatkan aset investasi bernilai yang sedang terkoreksi nilainya,” ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/3).

Namun, Budi mengingatkan bahwa ketika kondisi keuangan mulai terganggu, langkah yang lebih bijak adalah menghindari instrumen investasi berisiko terlebih dahulu. Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan likuiditas apabila ada potensi gangguan penghasilan dalam waktu dekat.

“Untuk situasi di mana penghasilan mungkin masih stabil, namun kita bisa memprediksi bahwa bisa jadi pekerjaan atau bisnis dalam beberapa bulan ke depan dapat terganggu, maka meningkatkan likuiditas dan memperbesar porsi dana darurat menjadi pilihan,” tuturnya.

Dalam kondisi tertentu, Budi menilai porsi dana darurat dapat ditingkatkan. Jika sebelumnya banyak orang menyiapkan dana darurat untuk 3 hingga 6 bulan pengeluaran, ia menyebut porsi itu bisa diperbesar menjadi 6 hingga 12 bulan pengeluaran.

Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho. Ia menilai tidak ada satu strategi tunggal yang cocok untuk semua orang karena kondisi penghasilan dan kebutuhan menjadi faktor penentu utama.

Bagi masyarakat dengan penghasilan terbatas dan kebutuhan yang besar, Andi menilai memegang uang tunai menjadi prioritas agar tetap memiliki fleksibilitas menghadapi kebutuhan mendesak. “Kalau penghasilannya terbatas dan kebutuhannya banyak, maka yang harus diprioritaskan adalah memegang uang tunai dulu. Karena kalau terjadi kondisi yang memaksa, masih punya uang cash untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, kemampuan menabung dana darurat sudah dinilai sebagai langkah yang baik, sementara investasi sebaiknya ditempatkan sebagai prioritas terakhir.

Adapun bagi masyarakat dengan kondisi keuangan yang lebih longgar, Andi menyebut strategi pengelolaan dana bisa lebih beragam. Kelompok ini tetap dapat berinvestasi secara rutin, sambil menjaga dana darurat dan likuiditas.

“Untuk yang penghasilannya sudah lebih dari cukup, ya saat ini waktu yang tepat untuk tetap rutin menyisihkan untuk investasi, karena ada banyak investasi yang harganya lagi turun,” kata Andi.

Meski demikian, ia mengingatkan investasi harus menggunakan “uang dingin”, yaitu dana yang tidak mengganggu kebutuhan dasar. “Namanya berinvestasi itu menggunakan uang dingin. Artinya tanpa uang itu kita masih tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jangan sampai menggunakan uang yang kalau hilang membuat kita tidak bisa hidup,” ujarnya.

Andi juga memberi gambaran alokasi bagi mereka yang kondisi finansialnya lebih kuat. Dalam kondisi normal, dana darurat dan investasi masing-masing dapat dialokasikan sekitar 10 persen dari penghasilan, sementara porsi terbesar tetap digunakan untuk kebutuhan dan likuiditas yang bisa mencapai sekitar 50 persen atau lebih, tergantung kebutuhan.

Dengan fleksibilitas tersebut, kelompok dengan keuangan lebih stabil dinilai dapat menjalankan ketiga strategi sekaligus—berinvestasi, menambah dana darurat, dan menjaga ketersediaan uang tunai—tanpa harus mengorbankan salah satunya.