BERITA TERKINI
Saham Konglomerat Mulai Terkoreksi di Awal 2025, Muncul Kekhawatiran Bubble dan Rotasi Sektor

Saham Konglomerat Mulai Terkoreksi di Awal 2025, Muncul Kekhawatiran Bubble dan Rotasi Sektor

Kinerja sejumlah saham konglomerat yang sempat mencuri perhatian sepanjang 2024 mulai menunjukkan pelemahan memasuki awal 2025. Setelah menjadi pemimpin pasar dan bergantian menempati jajaran kapitalisasi pasar terbesar, deretan saham tersebut terpantau terkoreksi pada Februari 2025, memunculkan pertanyaan apakah reli tahun lalu mulai memasuki fase “pecah bubble” dan mendorong investor mempertimbangkan rotasi sektoral.

Tren pergantian saham yang “booming” dari tahun ke tahun disebut kembali terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, saham healthcare atau farmasi menonjol; 2021 diisi bank digital dan teknologi; 2022 didominasi komoditas terutama batubara; 2023 menguat pada tema energi hijau/EBT; dan 2024 ditandai oleh saham konglomerat serta berbagai aksi korporasi.

Di sepanjang 2024, saham-saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastia Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) disebut bergantian meramaikan posisi teratas kapitalisasi pasar. Salah satu yang paling fenomenal adalah BREN, yang sempat melampaui kapitalisasi pasar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai di atas Rp1 kuadriliun hanya dalam sekitar tiga bulan setelah melantai di bursa.

Namun, memasuki bulan kedua 2025, laju saham-saham tersebut dinilai mulai terkikis. Sejumlah sentimen negatif dan koreksi harga terjadi pada beberapa emiten yang sebelumnya menguat signifikan, termasuk yang terkait agenda aksi korporasi seperti penawaran umum perdana (IPO).

Contohnya, saham PANI sempat mencapai puncak di kisaran Rp18.000 per lembar pada Desember 2024 dan sepanjang 2024 disebut naik lebih dari 200%. Dalam momentum tersebut, PANI membawa anak usahanya, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), melantai pada 13 Januari 2025. IPO CBDK disebut berjalan kuat dengan Auto Reject Atas (ARA) selama enam hari beruntun, dan harga sempat menembus di atas Rp11.000 atau hampir tiga kali lipat dari harga awal Rp4.060 per lembar.

Belakangan, sekitar sebulan terakhir, dua emiten yang dikaitkan dengan taipan Aguan disebut terdampak isu “pagar laut” di Tangerang yang beririsan dengan area pengembangan PIK 2. Setelah isu tersebut mencuat, saham PANI dan CBDK mengalami pelemahan. PANI disebut sempat turun sekitar 45% hingga di bawah Rp10.000 per lembar, sementara CBDK sempat kembali ke level Rp6.000 per lembar.

Sentimen negatif juga disebut menghantam saham lain seperti BREN, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO) setelah pupusnya harapan masuk ke konstituen indeks global MSCI. Dampaknya, saham-saham tersebut terkoreksi, dengan BREN disebut mengalami penurunan paling tajam karena sebelumnya digadang-gadang berpeluang masuk MSCI namun kembali gagal.

Hingga Jumat, 14 Februari 2025, BREN berada di Rp6.150 per lembar dan disebut telah turun hampir setengah dari puncaknya. Saham CUAN juga disebut melemah dari level tertinggi di atas Rp14.000 per lembar ke kisaran Rp7.000-an.

Di luar saham-saham tersebut, sejumlah saham konglomerat lain juga disebut mulai terkontraksi belakangan ini. Bahkan, terdapat emiten yang kembali mencatatkan kinerja minus secara tahunan, seperti BRPT dan AMMN.

Penurunan harga ini dinilai perlu diantisipasi sebagai sinyal bubble mulai pecah. Ada dua alasan utama yang dikemukakan. Pertama, pendekatan teknikal yang menekankan “history repeat itself”, merujuk pada pola saham-saham yang sempat “hype” pada tahun-tahun sebelumnya lalu mengalami penurunan signifikan setelah euforia mereda.

Contoh yang digunakan adalah saham ARTO. Pada 2021, ARTO disebut naik lebih dari 300% hingga sempat menembus Rp19.000 per lembar secara intraday. Namun dalam empat tahun terakhir, saham tersebut disebut terus berada di zona merah dan kini berada di bawah Rp2.000 per lembar.

Kedua, faktor valuasi yang dinilai terlalu mahal. Pada 2021, ARTO disebut sempat memiliki price to book value (PBV) sekitar 130 kali. Dengan asumsi ROE 10% dan PBV 130 kali, ilustrasi yang dipakai menyebut butuh waktu sangat lama untuk mencapai titik impas. Pada saat itu, ARTO juga disebut masih merugi sehingga ekspektasi profitabilitas dinilai tidak sejalan dengan lonjakan valuasi.

Per 14 Februari 2025, PBV ARTO disebut berada di 3,14 kali dengan harga Rp1.920 per lembar. Penurunan tersebut dipandang membuat valuasi lebih masuk akal dibanding periode euforia sebelumnya.

Dari dua faktor tersebut, kesimpulan yang ditarik adalah ekspektasi pasar yang terlalu tinggi dapat mendorong harga saham naik cepat hingga valuasinya tidak rasional. Ketika ekspektasi profitabilitas tidak terpenuhi, harga berpotensi turun dengan cepat atau terkoreksi berkepanjangan hingga kembali ke level valuasi yang dinilai lebih wajar.

Dalam pembahasan valuasi saham konglomerat saat ini, metrik PER dan PBV disebut menunjukkan sebagian besar masih mahal. Dengan PER, semuanya dinilai masih sangat tinggi, sementara dengan PBV hanya INPC yang disebut berada pada level yang lebih masuk akal.

Dengan kondisi tersebut, pembaca diingatkan untuk lebih berhati-hati terhadap saham-saham yang sedang “booming”. Saham seperti ini dinilai lebih sesuai untuk strategi trading jangka pendek berbasis momentum dan analisis teknikal, dengan disiplin manajemen risiko seperti penetapan stop loss untuk meminimalkan kerugian jika pergerakan harga tidak sesuai ekspektasi.