Keinginan meraih keuntungan besar dari saham—sering disebut multibagger—mendorong sebagian investor memburu emiten yang dikaitkan dengan aksi korporasi seperti corporate action atau rumor backdoor listing. Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah: berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menahan (hold) saham hingga menghasilkan keuntungan berlipat?
Istilah multibagger dipopulerkan Peter Lynch untuk menggambarkan keuntungan di atas 1.000% atau 10 bagger. Dalam pembahasan ini, target dipersempit menjadi minimal 1 bagger, yakni kenaikan 100%.
Untuk melihat tantangannya, dua contoh saham dengan karakter berbeda digunakan sebagai simulasi: UDNG yang pergerakannya banyak dikaitkan dengan rumor, serta ANTM yang kenaikannya lebih terkait dinamika fundamental dan sentimen komoditas.
UDNG: Kenaikan tajam pada saham berlikuiditas rendah
UDNG mencatatkan kenaikan 2.102% sepanjang 2025. Saham ini masuk kategori third liner dan sempat dirumorkan akan mengalami backdoor listing, meski belum ada pengumuman aksi korporasi. Dalam public expose terakhir, perusahaan disebut masih berencana melakukan ekspansi dengan menambah jumlah kolam. Anak usaha PT Marina Bahari Sentosa memiliki lahan berkapasitas 45 kolam, dengan realisasi sekitar 35 kolam dan rencana penambahan 10 kolam. Manajemen juga membantah berbagai rumor aksi korporasi, sementara harga saham sudah terbang sekitar 2.000% lebih.
Karakter UDNG yang kurang likuid membuat peluang meraih multibagger sangat bergantung pada waktu masuk. Jika investor masuk sebelum periode kenaikan tajam, potensi keuntungan bisa besar. Namun, ketika saham memasuki fase kenaikan cepat dengan auto rejection atas (ARA) berulang, ruang untuk masuk menjadi lebih sempit.
Simulasi dilakukan dengan tiga skenario waktu pembelian:
1) Periode FOMO pasca IPO (akhir 2023). UDNG IPO pada November 2023 dan langsung naik. Jika membeli pada hari pertama di harga Rp110 per saham, maka hingga 11 Juni 2025 potensi keuntungan menjadi sekitar 740%. Namun, skenario ini juga mengandung tantangan berupa potensi floating loss dalam periode yang panjang.
2) Periode terbaik saat harga tertekan (Desember 2024). Saat itu UDNG sempat berada di Rp39 per saham. Dengan harga acuan yang digunakan dalam simulasi, keuntungan saat ini setara sekitar 2.200%. Tantangannya, keputusan membeli saat harga jatuh sering sulit secara psikologis.
3) Periode terdekat setelah ada konfirmasi tren naik (April 2025). Setelah ARA berulang di awal 2025, saham sempat retracement. Jika masuk di sekitar Rp125 per saham, maka keuntungan hingga periode simulasi sekitar 640%. Namun, investor perlu siap menghadapi risiko setelah penurunan (ARB) pasca kenaikan tinggi.
ANTM: Peluang 1 bagger dari kombinasi sentimen dan fundamental
Peluang kenaikan 100% tidak hanya datang dari saham yang dikaitkan dengan aksi korporasi. ANTM menjadi contoh saham yang pergerakannya lebih terkait fundamental dan sentimen komoditas.
Harga saham ANTM cenderung melemah setelah booming komoditas pada 2022 seiring normalisasi kinerja, dari kisaran Rp3.000-an per saham kemudian turun. Tekanan juga datang dari kasus emas palsu serta keterlambatan persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM hingga Juli 2024, yang berdampak pada kinerja ANTM di semester I/2024.
Di sisi lain, terdapat pandangan bahwa ANTM berpotensi menjadi turnaround story, terutama dari bisnis nikel. Disebutkan bahwa berapa pun harga nikel dunia, ANTM dinilai memiliki peluang pemulihan kinerja pada 2025, dengan catatan bisnis nikel menjadi kontributor besar laba bersih dan margin nikel lebih baik dibanding bisnis emas. Pada semester II/2024, sentimen pendukung lain muncul dari kenaikan harga emas dunia, yang turut membantu kinerja bisnis emas ANTM. Hingga 10 Juni 2025, saham ANTM tercatat naik 117% sepanjang 2025.
Simulasi pembelian ANTM juga dibagi menjadi tiga skenario:
1) Periode FOMO (Februari 2023). Setelah turun dari Rp3.000-an pada April 2022 menjadi di bawah Rp2.000 di akhir 2022, ANTM sempat naik ke kisaran Rp2.300-an pada Februari 2023. Jika membeli di periode ini, maka hingga 11 Juni 2025 keuntungan baru sekitar 44% dan belum mencapai 1 bagger. Selain itu, investor juga menghadapi risiko penurunan harga hingga Rp1.100-an pada 2024, yang berarti periode floating loss cukup besar.
2) Periode terbaik saat harga rendah (Juni 2024). Jika membeli di Rp1.195 per saham, maka potensi keuntungan saat ini sekitar 178%. Namun, pada saat itu pasar saham Indonesia sedang tertekan dan ANTM juga tengah diterpa isu kasus emas palsu yang ramai dibahas, sehingga keputusan masuk dengan porsi besar menjadi lebih menantang.
3) Periode kenaikan signifikan (Februari 2025). Saat ANTM naik ke Rp1.680 per saham, pembelian di level tersebut menghasilkan potensi keuntungan sekitar 97% hingga periode simulasi. Tantangannya, periode tersebut berdekatan dengan gejolak pasar menjelang libur Lebaran pada Maret 2025.
Kesimpulan: Multibagger tidak hanya soal memilih saham, tetapi juga ketahanan menunggu
Dari dua simulasi tersebut, tantangan mengejar saham multibagger bukan semata-mata menemukan saham yang berpotensi naik, melainkan kesiapan menunggu momentum yang bisa memakan waktu hingga sekitar dua tahun—dan dua tahun disebut sebagai periode yang relatif cepat. Bahkan ketika membeli di harga rendah, tetap diperlukan momentum besar agar harga terdorong naik.
Di sisi lain, jika investor baru masuk saat sentimen sudah muncul, peluang mendapatkan harga terbaik cenderung semakin sulit. Selama menunggu, godaan juga muncul dari keinginan mengambil untung ketika kenaikan belum mencapai 1 bagger, serta tekanan psikologis saat menghadapi floating loss berkepanjangan.
Poin yang ditekankan dari simulasi ini adalah pentingnya keyakinan terhadap prospek saham berdasarkan data dan penilaian objektif, bukan sekadar perasaan atau pernyataan manajemen. Dengan pendekatan tersebut, investor dinilai lebih mampu mengukur risiko terburuk sekaligus peluang yang ada.

