BERITA TERKINI
Tarif dan Ketegangan Global Membayangi KTT G7 di Kanada

Tarif dan Ketegangan Global Membayangi KTT G7 di Kanada

KTT G7 kembali digelar di Kanada, kali ini di kawasan Pegunungan Rocky mulai Senin (16/6), dengan satu tujuan bersama yang menonjol: mencegah pertemuan para pemimpin negara-negara ekonomi maju itu berubah menjadi ajang pertikaian terbuka di tengah situasi global yang mudah tersulut.

Bayang-bayang ketegangan pada KTT 2018 ikut membentuk suasana pertemuan tahun ini. Saat itu, pertemuan di Kanada berakhir dengan kekacauan diplomatik. Dalam perjalanan pulang menggunakan Air Force One, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang tuan rumah Kanada lewat media sosial dan memerintahkan delegasi AS untuk tidak menyetujui pernyataan bersama yang telah diteken oleh Jepang, Prancis, Inggris, Italia, Jerman, dan Kanada.

Trump kala itu menyebut penolakannya terkait rencana mempertimbangkan tarif untuk mobil asing. Momen tersebut juga melahirkan foto yang kemudian menjadi simbol ketegangan: Trump duduk dengan tangan terlipat dan ekspresi menantang, sementara Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, menatapnya tajam dari seberang meja.

Menjelang KTT kali ini, isu tarif kembali menjadi sorotan utama. Trump datang setelah menaikkan tarif impor yang dinilai berpotensi memperlambat ekonomi global. Di saat yang sama, sejumlah krisis internasional belum menunjukkan kemajuan berarti, mulai dari perang di Ukraina dan situasi di Gaza, hingga meningkatnya konflik antara Israel dan Iran terkait program nuklir Teheran.

Agenda pembahasan juga mencakup persoalan lain yang kian kompleks, seperti perubahan iklim, imigrasi, perdagangan narkoba, teknologi baru termasuk kecerdasan buatan, serta dominasi manufaktur Cina dan pengaruhnya terhadap rantai pasok global.

Ketika ditanya apakah akan mengumumkan kesepakatan dagang baru sebelum berangkat dari Gedung Putih pada Minggu (15/6), Trump menyatakan AS pada dasarnya sudah memiliki kesepakatan dan tinggal mengirim surat berisi besaran pembayaran. Namun, ia juga mengatakan kemungkinan akan ada beberapa kesepakatan dagang baru.

Kanselir Jerman saat ini, Friedrich Merz, menekankan bahwa pembahasan tidak terbatas pada tarif, tetapi juga mencakup konflik di Timur Tengah dan invasi Rusia terhadap Ukraina.

Taruhannya, menurut sejumlah pengamatan, bukan hanya hasil pertemuan tahun ini, melainkan juga daya tahan G7 sebagai forum. Hal itu ikut dipengaruhi sinyal ambigu dari AS mengenai apakah Trump akan hadir dalam KTT G20 pada November mendatang di Afrika Selatan.

Peter Boehm, penasihat Kanada dalam KTT G7 2018 dan veteran enam KTT G7, menilai perselisihan besar pada pertemuan di Quebec kala itu tidak semata soal tarif, melainkan juga keberatan Trump terhadap pendekatan aliansi yang menekankan tatanan internasional berbasis aturan bersama. Menurut Boehm, momen itu membuat banyak pihak menyadari bahwa G7 tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pertemuan rutin seperti sebelumnya.

Berbeda dari tradisi yang kerap menghasilkan komunike bersama, KTT G7 tahun ini tidak merencanakan pernyataan bersama. Situasi ini dipahami sebagai sinyal bahwa pemerintahan Trump tidak siap membangun konsensus jika bertentangan dengan agenda utamanya, seperti tarif baru, peningkatan produksi bahan bakar fosil, dan desakan agar Eropa mengurangi ketergantungan militer kepada AS.

Caitlin Welsh dari Center for Strategic and International Studies, yang pernah menjadi bagian dari delegasi G7 bentukan Trump pada periode pertama, menilai pemerintahan Trump hampir pasti berpandangan bahwa tidak ada kesepakatan lebih baik daripada kesepakatan yang buruk. Sementara itu, Gedung Putih sejauh ini belum mengumumkan tujuan spesifik dalam KTT kali ini.

G7 sendiri berawal dari pertemuan para menteri keuangan pada 1973 untuk merespons krisis minyak, lalu berkembang menjadi forum tahunan bagi para pemimpin untuk membahas persoalan global. Kelompok ini sempat menjadi G8 ketika Rusia bergabung, namun Rusia dikeluarkan pada 2014 setelah menginvasi Krimea, yang kemudian berlanjut menjadi invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022.

Di Kanada, Trump dijadwalkan menjalani setidaknya tiga pertemuan bilateral. Ia akan bertemu Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Senin pagi, lalu bertemu Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, menurut pejabat administrasi AS.

Dalam kebijakan tarifnya, Trump memberlakukan tarif 25% untuk baja, aluminium, dan mobil, yang berdampak besar terhadap Jepang. Ia juga mengenakan pajak 10% atas sebagian besar impor, yang dapat meningkat setelah periode negosiasi 90 hari berakhir pada 9 Juli.

Inggris telah mencapai kerangka perdagangan dengan AS yang mencakup kuota untuk menghindari tarif tertentu, meski tarif dasar 10% tetap berlaku. Pemerintahan Trump disebut mengandalkan pendapatan tarif untuk menutupi pemotongan pajak penghasilan.

Kanada dan Meksiko menghadapi tarif hingga 25%, yang menurut Trump diberlakukan untuk menanggulangi penyelundupan fentanil. Meski demikian, beberapa produk tetap dilindungi melalui perjanjian dagang USMCA 2020.

Pemerintahan Trump bersikeras bahwa kenaikan tarif akan mendorong kesepakatan dagang yang meminggirkan Cina. Namun kebijakan tersebut juga memicu kekecewaan di kalangan negara sahabat. Mark Carney, misalnya, secara terbuka menyatakan Kanada tidak bisa lagi mengandalkan AS sebagai sahabat jangka panjang.

Di tengah situasi itu, Trump menghadapi tantangan untuk mempertahankan kebijakan tarifnya sekaligus meyakinkan negara lain agar lebih berpihak kepada AS dibanding Cina. Josh Lipsky, kepala ekonomi internasional di Atlantic Council, menilai Trump akan mencoba mengoordinasikan kelompok ini untuk melawan tekanan ekonomi Cina. Namun, ia juga mencatat para pemimpin lain bisa saja mempertanyakan upaya koordinasi tersebut, yang selama ini menjadi inti keberhasilan G7, karena akan lebih mudah dilakukan jika AS tidak memberlakukan tarif terhadap sekutunya.