Ketidakpastian global akibat pemberlakuan tarif resiprokal yang digaungkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada hampir seluruh negara mulai 1 Agustus 2025 memunculkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada semester kedua tidak akan sekuat paruh pertama tahun ini.
Head of Markets Strategy UOB, Heng Koon How, menilai paruh pertama 2025 berjalan cukup baik bagi banyak negara, termasuk di Asia. Dorongan ekspor disebut membantu Singapura mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 4,2 persen pada semester pertama, sementara Taiwan membukukan lonjakan PDB hampir delapan persen pada kuartal kedua.
Di tingkat global, ketahanan ekonomi Tiongkok turut mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan PDB negara emerging market pada 2025 menjadi 4,1 persen dari sebelumnya 3,7 persen.
Namun Heng mengingatkan bahwa data PDB bersifat indikator yang melihat ke belakang. Sejumlah otoritas, menurut dia, memperingatkan kondisi dapat “berbalik arah” ketika tarif yang lebih tinggi mulai berdampak. Efek penumpukan ekspor sebelum tarif berlaku dinilai kemungkinan sudah berakhir, sehingga perekonomian Asia, termasuk Tiongkok, berpotensi menghadapi perlambatan manufaktur.
Salah satu sinyal yang disoroti adalah indeks PMI manufaktur Tiongkok yang turun ke 49,3 pada Juli, berlawanan dengan ekspektasi yang mengarah ke 50. Heng menilai kondisi tersebut menunjukkan perlambatan mulai terasa.
Di Amerika Serikat, ekonomi tercatat tumbuh 3,0 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal kedua, lebih baik dari perkiraan. Meski demikian, Heng menilai perdebatan kini menguat mengenai apakah dampak negatif dari tarif yang semakin tinggi akan mulai membebani ekonomi AS pada paruh kedua 2025.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell, menurut Heng, mengakui sejauh ini pelaku impor di AS masih dapat menahan beban tarif. Namun, dengan tarif baru yang berlaku per 1 Agustus, beban tersebut diperkirakan semakin sulit dipikul dan dapat memicu kenaikan harga konsumen, melemahnya permintaan, serta menghambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pasar juga menanti hasil perundingan dagang antara AS dan Tiongkok yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan. Setelah putaran ketiga perundingan, kedua pihak sepakat memperpanjang pembicaraan selama 90 hari.
Isu yang dibahas disebut sensitif, mulai dari akses teknologi kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor untuk Tiongkok hingga ekspor sumber daya alam langka bumi dan mineral ke AS. Heng menilai hasil negosiasi ini akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Tiongkok dan prospek ekonomi Asia secara keseluruhan.
Jika menggabungkan tarif yang diberlakukan sejak masa pemerintahan Trump pertama hingga pemerintahan Joe Biden, perhitungan Peterson Institute for International Economics (PIIE) menunjukkan rata-rata tarif AS atas impor dari Tiongkok kini mencapai 54,9 persen, sedangkan rata-rata tarif Tiongkok atas impor dari AS sebesar 32,6 persen. Heng menilai tingkat tarif setinggi itu bukan kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, kesepakatan dagang AS dengan negara besar lain seperti India, Kanada, dan Brasil dilaporkan tersendat karena isu geopolitik dan kebijakan luar negeri yang tidak terkait langsung dengan perdagangan.
Beberapa perjanjian yang sudah diteken juga disertai komitmen investasi besar ke AS, antara lain USD350 miliar dari Korea Selatan, USD550 miliar dari Jepang, dan USD600 miliar dari Uni Eropa. Namun, Heng menyebut banyak pihak di negara-negara tersebut meragukan dan menolak kesepakatan tersebut.
Menurut dia, muncul pertanyaan mengenai sumber pendanaan dan implementasi komitmen investasi dalam jumlah besar itu. Heng menilai tidak tertutup kemungkinan komitmen tersebut pada akhirnya dikurangi atau dibatalkan, yang dapat mengguncang kelanjutan perjanjian.
Di luar itu, Heng juga menyoroti masih banyak pertanyaan mengenai cara penerapan tarif untuk kategori barang tertentu, termasuk “tarif Sektor 232” untuk industri otomotif, semikonduktor, dan farmasi, serta “tarif transshipment” untuk barang yang dianggap dialihkan melalui negara ketiga guna menghindari bea masuk.

