BERITA TERKINI
Transaksi Digital Kian Dominan, BCA Syariah Dorong Migrasi Nasabah ke Mobile Banking BSya

Transaksi Digital Kian Dominan, BCA Syariah Dorong Migrasi Nasabah ke Mobile Banking BSya

Perkembangan transaksi digital melalui ponsel kian mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja dan mengelola keuangan. Dompet digital dan pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) makin banyak dipilih karena dinilai praktis, efisien, bisa dilakukan kapan saja, serta mengurangi kebutuhan uang kembalian.

Yudi (28), karyawan perusahaan periklanan, mengaku lebih memilih tertinggal dompet ketimbang ponsel. Menurutnya, berbagai kebutuhan pembayaran kini dapat dilakukan lewat smartphone dengan banyaknya aplikasi dompet digital. Hal serupa disampaikan Iwan (30), pegawai swasta, yang menilai ponsel telah menjadi perangkat utama untuk beragam transaksi, mulai dari membayar transportasi online hingga memesan makanan. Ia juga menyebut transaksi termasuk penarikan uang kini dapat dilakukan melalui handphone.

Transformasi ini turut ditopang oleh integrasi sistem pembayaran dengan teknologi digital. QRIS disebut menjadi salah satu inovasi yang menyederhanakan proses pembayaran sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan inklusi keuangan di Indonesia.

Di sisi pengguna, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66% dari total penduduk. Dengan jumlah penduduk sekitar 284,4 juta jiwa, angka tersebut setara dengan sekitar 229,4 juta pengguna internet. Kondisi ini dinilai menjadi pendorong pertumbuhan transaksi digital.

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi digital, termasuk aplikasi mobile dan internet, pada semester pertama 2025 tumbuh 30,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 11,67 miliar transaksi. Volume transaksi aplikasi mobile dan internet masing-masing meningkat 32,16% yoy dan 6,95% yoy. Sementara itu, volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS tumbuh 148,50% yoy, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.

Dari sisi infrastruktur, BI juga mencatat volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST tumbuh 42,87% yoy menjadi 1,12 miliar transaksi, dengan nilai mencapai Rp 2.788,31 triliun sepanjang triwulan II 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan transaksi digital memudahkan masyarakat seiring aktivitas yang semakin meningkat secara virtual. Ia juga menyoroti perbankan yang berlomba memberi kemudahan, termasuk pembukaan rekening yang kini dapat dilakukan melalui ponsel tanpa harus datang ke kantor cabang.

Merespons tren tersebut, PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) melakukan transformasi layanan transaksi digital melalui aplikasi mobile banking BSya. Direktur BCA Syariah Ina Widjaja mengatakan aplikasi BSya by BCA Syariah dirancang untuk menjadi “teman terpercaya” dalam layanan finansial, dengan fitur yang mencakup pembukaan rekening secara daring, pembayaran via QRIS di semua merchant, zakat dan kurban, setoran haji, hingga akses pembiayaan emas iB.

Ina menyebut inovasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyederhanakan transaksi, tetapi juga mendukung pemenuhan kebutuhan ibadah nasabah. Ia menambahkan, konsep “menemani langkah” menggambarkan kedekatan dan keandalan, sementara “penuh berkah” merefleksikan harapan agar perjalanan hidup nasabah membawa manfaat dan kebaikan.

Vice President Cash Management BCA Syariah Nadia Amalia Sekarsari menyatakan transaksi mobile banking BSya tumbuh 20,1% per Juni 2025. Menurutnya, pertumbuhan itu mencerminkan meningkatnya minat masyarakat untuk mengelola keuangan syariah melalui kanal digital. Ia menyebut BSya memungkinkan pengguna menjalankan kebutuhan finansial dan ibadah dalam satu aplikasi, mulai dari menabung, berinvestasi emas, setoran haji, hingga berzakat.

Perencana keuangan tersertifikasi Nadia Harsha menilai penting menjaga harmoni aspek finansial dan spiritual di era modern. Ia menekankan fondasi keuangan yang sehat dapat dibangun melalui keseimbangan antara dana darurat, cicilan yang terkendali, investasi yang bertumbuh, serta pemenuhan kewajiban zakat dan sedekah.

Di sisi kinerja, BCA Syariah menyebut penguatan digitalisasi turut mendukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Pada semester I 2025, DPK BCA Syariah tumbuh 24,2% menjadi Rp 14 triliun. Peningkatan ini disebut didorong akselerasi fitur digital pada aplikasi BSya yang memudahkan transaksi dan mendorong pertumbuhan dana murah atau CASA hingga 40,8% dari total DPK.

Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menyampaikan BSya diharapkan dapat menarik lebih banyak nasabah baru dan memperluas adopsi layanan digital sebagai fondasi ekspansi produk keuangan lainnya. Perseroan juga menargetkan nasabah yang masih menggunakan aplikasi BCA Syariah Mobile segera bermigrasi ke BSya paling lambat Oktober 2025.

Yuli menjelaskan pengelolaan dua aplikasi mobile banking secara bersamaan membutuhkan upaya ekstra. Ia mencontohkan, pada aplikasi lama belum tersedia fitur top up Flazz. Sementara pada BSya, fitur dinyatakan lebih lengkap, termasuk top-up berbagai e-wallet dan kartu Flazz, yang diharapkan mempermudah transaksi harian masyarakat yang semakin mengandalkan dompet digital.