Tren akuisisi emiten untuk mengambil alih status perusahaan terbuka (backdoor listing) kian ramai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam dua pekan terakhir, setidaknya enam emiten mengumumkan negosiasi akuisisi, yakni KOKA, SMKM, OLIV, MEJA, FITT, dan LAPD. Kondisi ini memicu minat spekulatif pada saham-saham berkapitalisasi kecil, sekaligus meningkatkan risiko bagi investor ritel.
Sejumlah pelaku pasar menilai emiten yang diincar sebagai “cangkang” umumnya berasal dari perusahaan yang melantai pada periode 2021–2024, dengan karakter bisnis yang relatif mudah direstrukturisasi. Pergantian pengendali dan perubahan model bisnis kerap diasosiasikan dengan peluang aksi korporasi lanjutan, termasuk penyuntikan aset berskala besar, yang kemudian mendorong ekspektasi prospek emiten di masa depan.
Di sisi lain, lonjakan harga saham-saham mini sering terjadi menjelang dan saat pengumuman akuisisi. Pergerakan ini disebut dapat dipengaruhi dua faktor utama: pertama, dorongan aktivitas transaksi agar terlihat ramai sehingga likuiditas meningkat pada saham dengan pasokan terbatas; kedua, tingginya ekspektasi publik dan sebagian dana menengah (middle fund) pada saham yang likuiditasnya rendah, sehingga ketika permintaan beli membesar, harga dapat melesat tajam.
Namun, kombinasi permintaan yang tinggi dan jumlah saham beredar (free float) yang terbatas juga membuat saham-saham seperti ini kerap sulit didapatkan. Karena itu, sebagian pihak memilih masuk lebih awal dengan spekulasi bahwa suatu saham berpotensi dijadikan cangkang backdoor listing. Strategi ini pada dasarnya berisiko tinggi karena dilakukan sebelum ada kepastian informasi.
Salah satu contoh yang disorot adalah OLIV. Disebutkan bahwa pengendali OLIV, Hendro Jap dan Hieo Mie Tjen, telah menandatangani perjanjian jual-beli saham bersyarat dengan tiga investor—PT Olive Power Invest, PT Motif Investasi Indonesia, dan PT Pacific Prima Permata—dengan rencana pelepasan 77,9% kepemilikan kepada investor baru. Meski demikian, identitas investor baru tersebut disebut belum terdeteksi lebih lanjut.
Contoh lain adalah MEJA. Setelah muncul kabar akuisisi oleh Triple B—yang disebut sebagai perusahaan penasihat aksi korporasi—ketidakpastian pun mengemuka karena pasar belum mengetahui langkah lanjutan yang akan dilakukan setelah pengambilalihan. Disebutkan pula bahwa Triple B memiliki keterkaitan portofolio sebagai konsultan NINE dalam pengelolaan aset distressed, pendanaan, dan reverse take over.
Di balik potensi keuntungan, spekulasi pada saham mini yang rentan diakuisisi menyimpan sejumlah risiko. Pertama, likuiditas yang rendah membuat keluar-masuk dengan nilai besar menjadi sulit, sehingga ada risiko tidak optimal saat merealisasikan keuntungan atau bahkan tersangkut ketika terjadi perubahan sentimen. Kedua, harga bisa bergerak mendatar (sideways) dalam waktu lama jika belum ada momentum atau kabar yang menggerakkan pasar. Ketiga, ketika sentimen memanas, saham berpotensi terkena suspensi atau masuk papan notasi khusus, yang dapat memicu koreksi setelah perdagangan dibuka kembali.
Risiko lain adalah transaksi yang gagal atau berlarut-larut. Contoh yang diangkat adalah IOTF, yang sempat bergejolak hingga Rp274 per saham saat ada rencana akuisisi oleh PT Gaia Artha Dynamic. Dalam proses uji tuntas (due diligence), muncul spekulasi transaksi akan berlanjut, tetapi kemudian Gaia Artha Dynamic membatalkan akuisisi, dan harga saham IOTF disebut cenderung terkoreksi hingga di bawah Rp100 per saham.
Kasus transaksi yang berjalan lama juga dicontohkan pada NINE. Sejak akhir 2024 hingga periode yang disebutkan, NINE telah mengubah kesepakatan jual-beli dengan Grup Poh asal Singapura. Nilai transaksi terbaru disebut turun menjadi Rp12 per saham dari sebelumnya Rp19 per saham, dengan alasan adanya kewajiban utang yang harus dibayarkan pengendali baru.
Selain itu, investor juga diingatkan untuk mencermati ketentuan prospektus IPO, terutama terkait komitmen pengendali untuk tidak mengalihkan pengendalian dalam periode tertentu. Contoh yang disampaikan adalah PTMR yang IPO pada 8 Oktober 2024, dengan pernyataan pengendali tidak mengalihkan pengendalian selama 12 bulan. Namun, sebelum 12 bulan, muncul kabar rencana akuisisi oleh Deep Source Pte. Ltd. Setelah keterbukaan informasi pada 25 Juni 2025, saham PTMR disuspensi mulai keesokan harinya hingga tanggal yang disebutkan (19 September 2025), dan belum ada kepastian kapan suspensi dibuka.
Contoh lain adalah KOKA. Dalam prospektus IPO 2023, pengendali KOKA disebut menyatakan akan tetap menjadi pengendali minimal lima tahun setelah pengajuan IPO. Namun, baru berjalan sekitar dua tahun, saham KOKA disebut akan diambil alih oleh Ningbo Lixing. Saham KOKA kemudian disuspensi BEI sejak 17 September 2025.
Dengan berbagai dinamika tersebut, saham mini yang terdorong isu backdoor listing dapat menawarkan peluang keuntungan besar dalam jangka pendek, tetapi risikonya juga signifikan. Pergerakan harga yang ekstrem, likuiditas rendah, potensi suspensi, hingga kemungkinan transaksi batal atau berlarut-larut menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Dalam situasi seperti ini, manajemen risiko dan pemahaman atas ketentuan serta tahapan transaksi menjadi kunci sebelum mengambil keputusan.

