BERITA TERKINI
Trump Naikkan Tarif 100% untuk Impor China, Wall Street Tertekan dan Saham Teknologi Terguncang

Trump Naikkan Tarif 100% untuk Impor China, Wall Street Tertekan dan Saham Teknologi Terguncang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tensi konflik dagang dengan China. Langkah terbaru ini memicu tekanan kuat di pasar keuangan, ditandai dengan merosotnya indeks-indeks utama Wall Street pada akhir perdagangan Sabtu pagi, 11 Oktober 2025.

Ketegangan meningkat setelah Beijing memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang. Menyusul kebijakan tersebut, Trump mengumumkan rencana pemberlakuan tarif tambahan sebesar 100% terhadap impor dari China. Amerika Serikat juga menerapkan pengendalian ekspor untuk perangkat penting buatan AS, yang ikut mengguncang saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

Setelah jam perdagangan berakhir, saham Nvidia, Tesla, Amazon, dan Advanced Micro Devices masing-masing turun lebih dari 2%. Pelemahan itu menambah penurunan tajam yang telah terjadi pada sesi perdagangan Jumat, setelah Trump menulis di platform Truth Social bahwa ia sedang mempertimbangkan “kenaikan tarif besar-besaran” terhadap impor China.

Trump juga menyatakan tidak ada alasan untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam dua minggu ke depan sesuai rencana, seraya menambahkan bahwa “banyak langkah balasan lain” sedang dipertimbangkan.

Tekanan menyebar ke seluruh pasar. Ketiga indeks utama saham AS anjlok selama sesi perdagangan dan memperpanjang penurunan setelah penutupan bursa. S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan harian terbesar sejak 10 April. Secara mingguan, S&P 500 membukukan penurunan tertajam sejak Mei, sementara Nasdaq mengalami pelemahan minggu ke minggu terdalam sejak April.

Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, Omaha, menilai pasar bereaksi dengan cepat terhadap eskalasi terbaru tersebut. Ia mengatakan, perselisihan kembali antara dua ekonomi terbesar dunia memunculkan mentalitas “jual dulu, pikir nanti”. Menurutnya, pernyataan Trump datang tanpa peringatan dan membuka peluang volatilitas ekstrem, seraya menambahkan bahwa pasar sudah lama tidak menghadapi tingkat volatilitas seperti ini.

Dalam penutupan terakhir, Dow Jones Industrial Average turun 878,82 poin atau 1,90% menjadi 45.479. Indeks S&P 500 merosot 182,60 poin atau 2,71% menjadi 6.552, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 820,20 poin atau 3,56% menjadi 22.204.

Sektor semikonduktor menjadi salah satu yang paling terpukul. Indeks Sektor Semikonduktor Philadelphia merosot 6,3% setelah pengumuman Trump. China disebut memproduksi lebih dari 90% logam tanah jarang dan magnet logam tanah jarang dunia, material yang penting bagi berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik, mesin pesawat, hingga radar militer.

Peningkatan perang dagang ini dinilai berpotensi memicu gangguan besar pada rantai pasok global, terutama di sektor teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang kerap dipandang sebagai barometer kecemasan pasar, naik ke level penutupan tertingginya sejak 19 Juni. Sementara itu, saham perusahaan China yang tercatat di bursa AS ikut tertekan. Alibaba Group Holding, JD.com Inc, dan PDD Holdings masing-masing turun dalam kisaran 5,3% hingga 8,5%.

Di sisi lain, Qualcomm merosot 7,3% setelah otoritas pasar China menyatakan telah membuka penyelidikan antimonopoli terkait akuisisi perusahaan semikonduktor Israel, Autotalks, oleh Qualcomm.

Di luar isu perdagangan, pemerintah AS memasuki hari ke-10 penutupan (shutdown) karena kebuntuan di Kongres belum menunjukkan tanda kemajuan atau negosiasi serius. Situasi ini memicu “pemadaman data” lantaran publikasi indikator ekonomi resmi pemerintah untuk sementara ditangguhkan.

Meski demikian, sejumlah data dari sumber independen tetap terbit. Universitas Michigan merilis laporan awal sentimen konsumen Oktober yang masih bertahan di dekat level terendah historis, dengan harga tinggi dan melemahnya prospek pekerjaan disebut menjadi kekhawatiran utama.

Dalam kondisi minim data resmi, investor mencermati sinyal dari Federal Reserve terkait peluang pemangkasan suku bunga. Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa meski data ketenagakerjaan swasta menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, bank sentral perlu berhati-hati saat menurunkan suku bunga acuan sambil mengevaluasi kondisi ekonomi. Presiden The Fed St Louis Alberto Musalem menyampaikan pandangan serupa, dengan menilai pemangkasan suku bunga tambahan mungkin diperlukan sebagai langkah pencegahan, namun kebijakan moneter tetap harus dijaga agar tidak menjadi terlalu longgar.

Pasar juga menanti musim laporan keuangan. Sejumlah bank besar, termasuk JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo, dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal ketiga pada hari Selasa.

Menurut data LSEG, analis memperkirakan pertumbuhan laba kuartal ketiga untuk perusahaan-perusahaan di indeks S&P 500 sebesar 8,8% secara tahunan, lebih rendah dibanding pertumbuhan 13,8% pada kuartal sebelumnya dan 9,1% pada kuartal ketiga 2024.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui saham yang naik dengan rasio 4,36 banding 1. Tercatat 215 saham mencetak harga tertinggi baru dan 167 saham mencapai level terendah baru. Di Nasdaq, 799 saham naik dan 3.936 saham turun, dengan rasio penurunan terhadap kenaikan 4,93 banding 1.