BERITA TERKINI
Waspada Penipuan Dompet Elektronik Menjelang Pengakuan Resmi sebagai Metode Pembayaran Setara Rekening Bank

Waspada Penipuan Dompet Elektronik Menjelang Pengakuan Resmi sebagai Metode Pembayaran Setara Rekening Bank

Mulai 1 Juli 2025, dompet elektronik di Vietnam resmi diakui sebagai metode pembayaran yang serupa dengan rekening bank. Ketentuan ini merujuk pada poin b dan d, klausul 2, Pasal 25, serta klausul 5, Pasal 52 dalam Surat Edaran No. 40/2024/TT-NHNN Bank Negara Vietnam.

Dengan pengakuan tersebut, pengguna dapat lebih mudah melakukan transfer uang antar dompet elektronik maupun antara dompet elektronik dan rekening bank. Namun, kemudahan ini juga dinilai membuka peluang lebih besar bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan penipuan, terutama terhadap masyarakat yang sering menggunakan dompet elektronik untuk transaksi.

Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah pesan atau panggilan dari nomor tidak dikenal yang mengarahkan pengguna untuk memperbarui aplikasi dompet elektronik melalui tautan tertentu. Dalam sejumlah kasus, tautan tersebut bukan berasal dari sumber resmi dan dapat digunakan untuk mencuri data maupun menguras saldo.

Seorang warga berinisial NTTE di komune My Thuan mengaku hampir menjadi korban penipuan karena kerap memakai dompet digital MoMo untuk belanja dan membayar kebutuhan harian. Pada awal Juni 2025, ia menerima telepon dari nomor asing. Penelepon memperkenalkan diri sebagai karyawan MoMo bernama Thuy dan menyebutkan nomor KTP miliknya. Penelepon menawarkan bantuan instalasi dan pembaruan aplikasi agar korban bisa menggunakan lebih banyak fitur.

Korban kemudian menerima tautan pembaruan. Saat mempertanyakan mengapa pembaruan tidak dilakukan melalui App Store, penelepon menyatakan itu versi baru khusus pelanggan setia sehingga tidak tersedia di App Store atau Google Play. Korban mengklik tautan tersebut dan mengisi informasi yang diminta. Ia juga dijanjikan bonus 500.000 VND karena mendaftar lebih awal. Setelah data dikirim, saldo dompet elektroniknya berkurang lebih dari 1 juta VND dan ia baru menyadari telah tertipu.

Kasus serupa dialami warga berinisial VVT di lingkungan Rach Gia yang sering menggunakan Zalopay untuk pembayaran online dan transfer. Pada 10 Juli 2025, ia menerima telepon dari seorang pria bernama Tien yang mengaku sebagai karyawan ZION Joint Stock Company. Penelepon meminta korban meningkatkan akun Zalopay agar bisa mengakses layanan tambahan, termasuk pencairan pinjaman melalui dompet elektronik.

Korban mengaku percaya karena penelepon berbicara jelas dan lancar. Pelaku kemudian menambahkan korban di Zalo dan mengirim tautan untuk mengisi data sebagai syarat peningkatan akun. Karena berharap bisa meminjam uang, korban mengikuti instruksi tersebut. Hingga malam hari ia tidak menerima kabar, dan saat menghubungi kembali, ia mengetahui telah diblokir. Kepanikan muncul ketika ia hendak membayar tagihan listrik dan mendapati saldo rekeningnya kosong. Hampir 3 juta VND dilaporkan hilang.

Selain menyamar sebagai karyawan layanan dompet elektronik, pelaku juga menggunakan taktik lain yang lebih beragam. Di antaranya mengajak korban mengikuti permainan atau undian yang mengatasnamakan dompet elektronik, serta menawarkan pinjaman dengan prosedur sederhana dan suku bunga rendah. Modus-modus ini kerap disertai malware dan tautan mencurigakan. Ketika korban mengikuti arahan, informasi pribadi, detail rekening bank, dan data dompet elektronik dapat bocor sehingga memudahkan pencurian uang.

Perwakilan Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi di Kementerian Keamanan Publik mengimbau masyarakat agar waspada terhadap panggilan dari orang asing dan tautan mencurigakan yang diterima melalui pesan teks. Warga juga diminta berhati-hati saat memasang aplikasi di ponsel dan hanya mengunduh aplikasi dari sumber resmi untuk menghindari kebocoran data pribadi.

Untuk aplikasi yang tidak dapat dipercaya dan dipasang dari sumber tidak resmi, masyarakat diminta segera menghapusnya. Dalam proses pemasangan, pelaku dapat menipu pengguna agar memberikan akses ke data sensitif di ponsel sehingga memudahkan penipuan.

Dalam imbauannya, otoritas juga menegaskan masyarakat dilarang membeli, menjual, menyewakan, atau meminjamkan dompet elektronik. Praktik tersebut disebut dapat dimanfaatkan untuk transfer uang ilegal, dan individu yang menyewakan atau meminjamkan dompet elektronik dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.