Calon Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Adi Budiarso, mengatakan demutualisasi bursa merupakan inisiatif untuk membuka kepemilikan baru di bursa efek. Menurutnya, skema ini memungkinkan pihak lain di luar anggota bursa untuk memiliki saham di bursa.
Adi, yang saat ini menjabat Direktur Pengembangan Perbankan Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya pada Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Kementerian Keuangan, menjelaskan bahwa selama ini bursa efek dimiliki oleh lembaga anggota bursa sehingga bersifat mutual. Dengan demutualisasi, kepemilikan tersebut dapat dibuka bagi pihak lain.
“Contohnya misalnya Danantara mau beli. Itu bisa. Kayak di Singapura, itu yang beli salah satunya adalah Temasek. Nanti pemerintah perlu mengatur ini,” kata Adi kepada awak media, Rabu (11/3/2026).
Meski membuka peluang kepemilikan baru, Adi menekankan pemerintah tetap perlu mengatur mekanisme demutualisasi. Ia menyebut ketentuan mengenai demutualisasi sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Adi juga menyampaikan pihaknya masih mencermati perkembangan global yang dinilai lebih maju, termasuk transformasi di Singapura menuju model holding type company dalam demutualisasi bursa. Karena itu, ia menyebut akan ada revisi terhadap Self-Regulatory Organization (SRO) di Indonesia.
“Dan kita ingin mencoba selama ini kan ada bursa efek, ada P, ada C. Nah kita lihat mungkin ke depan yang paling best fit untuk Indonesia sebiasa. Kita lagi lihat. Singapura kita lihat, kita lihat di Hongkong, kita lihat di Jepang, kita lihat di Australia,” ujarnya.
Ia menambahkan Indonesia perlu menerapkan praktik terbaik. Jika implementasinya membutuhkan perubahan atau dukungan regulasi melalui undang-undang, hal itu dapat ditempuh melalui koordinasi dengan pemerintah, DPR, otoritas terkait, serta pelaku pasar agar industri terlibat dalam pembahasan langkah berikutnya.
Adi turut menyinggung target yang ditetapkan Presiden, yakni sekitar Juni atau setidaknya pada semester ini atau tahun ini. Menurutnya, target tersebut perlu dijawab dengan kesiapan semua pihak untuk mempercepat langkah melalui satu platform serta memperkuat kolaborasi.

