Perdagangan dan investasi global kian menunjukkan pergeseran pusat gravitasi ke Asia. Dalam pusaran perubahan itu, Indonesia dinilai belum tampil sebagai pemain besar sesuai potensinya karena masih menghadapi persoalan struktural yang membuat kinerja perdagangan kurang andal serta iklim investasi yang belum sepenuhnya kompetitif.
Meski demikian, Indonesia mulai masuk radar dinamika perdagangan dan investasi global seiring menguatnya peran Asia dalam pertumbuhan perdagangan dunia. Sejumlah proyeksi sebelumnya juga menempatkan Asia Pasifik sebagai kawasan yang diperkirakan mengalami pertumbuhan pesat perdagangan pada dekade 2020-an.
Peran Asia dalam lonjakan perdagangan global
Laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) tertanggal 13 Desember 2022 mencatat nilai perdagangan global menembus 32 triliun dollar AS pada 2022. Angka tersebut merupakan gabungan perdagangan barang senilai 25 triliun dollar AS (naik 10 persen dari 2021) dan perdagangan jasa senilai 7 triliun dollar AS (naik 15 persen dari 2021).
UNCTAD menilai pertumbuhan itu sarat dinamika Asia. Pada triwulan III-2022, hampir semua kawasan dunia mengalami penurunan pertumbuhan perdagangan dibanding triwulan II-2022, dipengaruhi komplikasi invasi Rusia ke Ukraina, kelesuan ekonomi di banyak negara, serta efek kenaikan suku bunga di AS dan Eropa. Namun, UNCTAD mencatat pengecualian terjadi di Asia Timur, di mana ekspor dan impor pada triwulan III-2022 tetap sama dibanding triwulan sebelumnya.
Dominasi China dalam perdagangan
Dinamika Asia tidak terlepas dari peran China. Pada 2022, total neraca perdagangan China (ekspor dan impor) mencapai 6,26 triliun dollar AS, dengan ekspor 3,59 triliun dollar AS dan impor 2,72 triliun dollar AS. China juga disebut sebagai negara pedagang barang terbesar di dunia sejak 2017.
Rekor tersebut terjadi di tengah perang di Ukraina dan perlambatan pertumbuhan global pada 2022. Data Biro Kepabeanan China menunjukkan perdagangan China meningkat bersama sejumlah mitra, termasuk Rusia, Amerika Latin, Afrika, Belanda, Kanada, India, dan ASEAN.
Sejumlah pandangan menilai kuatnya ekspor China mencerminkan arah pembangunan dan perluasan pengaruh ekonomi negara itu. Dalam penilaian lain, China disebut mampu mengatasi berbagai tekanan pada sektor manufaktur, mulai dari inflasi global, pandemi Covid-19, hingga dinamika geopolitik.
ASEAN menguat sebagai mitra dagang utama China
Di antara berbagai kawasan, hubungan perdagangan China dan ASEAN menjadi salah satu yang paling dinamis. Pada 2022, ASEAN tercatat sebagai mitra dagang terbesar China dengan total neraca perdagangan 975,3 miliar dollar AS. ASEAN menempati posisi mitra dagang terbesar bagi China sejak 2020, sementara bagi ASEAN, China telah menjadi mitra dagang terbesar sejak 2009.
Uni Eropa berada di posisi kedua mitra dagang China dengan nilai perdagangan 847,3 miliar dollar AS pada 2022, disusul Amerika Serikat sebesar 759,4 miliar dollar AS. Menguatnya perdagangan ASEAN-China disebut telah menggeser peran Uni Eropa dan AS yang sebelumnya berada di urutan teratas.
RCEP dan dampak perang dagang mempercepat relokasi
Salah satu faktor yang dinilai mendorong penguatan hubungan dagang ASEAN-China adalah berlakunya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) efektif mulai 1 Januari 2022. Sepanjang 2022, penurunan tarif melalui RCEP disebut ikut melanggengkan perdagangan ASEAN-China, dan potensi perdagangan dari kesepakatan tersebut dinilai mulai terlihat secara bertahap.
Faktor lain yang disebut berpengaruh adalah perang dagang AS-China yang dimulai pada 2016. Perang dagang itu dinilai mendorong perusahaan global mencari pemasok baru di Asia Tenggara untuk menghindari tarif AS terhadap impor dari China, sementara perusahaan China juga disebut melakukan langkah serupa.
Asia Tenggara dipandang menarik untuk relokasi karena pertumbuhan yang tinggi, upah buruh yang lebih murah, keterbukaan, serta kedekatan geografis dengan China. Namun, relokasi ini disebut bukan hal baru karena China telah perlahan melakukan relokasi akibat kenaikan upah buruh domestik, meski perang dagang dinilai mempercepat proses.
Relokasi tidak menghapus ketergantungan pada rantai pasok China
Relokasi manufaktur dari China ke Asia Tenggara disebut terus meningkat, dengan sejumlah negara tujuan utama seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina. Vietnam kerap disebut paling siap sebagai tujuan relokasi, meski dinilai tetap belum mampu menggantikan posisi China.
Ekosistem rantai pasok yang sudah terbentuk di China membuat pabrikan global masih bergantung pada pasokan bahan baku dan barang setengah jadi dari negara tersebut. Karena itu, relokasi dinilai tidak memutus peran China dalam perdagangan kawasan, tetapi justru mendorong aliran investasi yang mengikuti perpindahan basis produksi.
Investasi China ke ASEAN dan perdebatan geopolitik
Di luar relokasi, terdapat pula aliran investasi dari China ke ASEAN, termasuk pendirian perusahaan pengekstrak bahan baku. Upaya integrasi ekonomi China-ASEAN juga disebut dipengaruhi pertimbangan geopolitik, meski pada 22 Mei 2022, Wang Yi—yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri China—menepis anggapan tersebut dan menyatakan penguatan kerja sama didorong oleh perdagangan dan keterbukaan, bukan unsur geopolitik.
Salah satu instrumen investasi yang disebut berperan adalah China-ASEAN Investment Cooperation Fund (CAF), yang berfokus pada sektor infrastruktur, energi, dan sumber daya alam. CAF disponsori Export-Import Bank of China (EXIM Bank) serta investor kelembagaan lain, berada di bawah arahan Dewan Negara China dan disetujui National Development and Reform Commission (NDRC).
Posisi Indonesia: peluang besar, pekerjaan rumah belum selesai
Di tengah meningkatnya arus perdagangan dan investasi di Asia, Indonesia disebut tetap memiliki kemerdekaan ekonomi yang kuat dalam konteks investasi asing. China terkadang berada di posisi pertama sebagai investor di Indonesia, namun Singapura juga kerap menempati peringkat teratas, seperti pada 2022 dengan total investasi 13,3 miliar dollar AS, sementara investasi China tercatat 8,2 miliar dollar AS. Selain itu, terdapat pula investor utama lain seperti Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan Belanda.
Secara global, Indonesia tercatat masuk 20 besar tujuan investasi dunia dengan nilai 20 miliar dollar AS pada 2021, berdasarkan UNCTAD Handbook of Statistics 2022 (Economic Trends). Namun, catatan lain menyebut masih banyak hal yang perlu dibenahi agar Indonesia lebih menarik bagi investor asing dalam persaingan dengan negara lain, termasuk Vietnam.
- Perbaikan kebijakan pendukung untuk meningkatkan daya saing investasi
- Pendorongan perusahaan lokal agar menjadi mitra yang andal bagi investor
- Pengurangan ketidakpastian regulasi
Dengan dinamika perdagangan dan investasi yang semakin berpusat di Asia, tantangan bagi Indonesia adalah memperkuat fondasi domestik agar mampu menangkap peluang yang terbuka, sekaligus meningkatkan posisi dalam rantai pasok dan arus investasi kawasan.

