BERITA TERKINI
ECB Diproyeksikan Perkecil Kenaikan Suku Bunga di Tengah Tanda Inflasi Zona Euro Melandai

ECB Diproyeksikan Perkecil Kenaikan Suku Bunga di Tengah Tanda Inflasi Zona Euro Melandai

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) diperkirakan akan mengikuti langkah Federal Reserve AS dengan memilih kenaikan suku bunga yang lebih kecil pada Kamis (15/12), seiring munculnya indikasi bahwa laju inflasi yang tinggi mulai mereda, menurut para analis.

Selama beberapa bulan terakhir, ECB telah menaikkan suku bunga dalam apa yang disebut Presiden ECB Christine Lagarde sebagai “langkah tercepat yang pernah diambil” untuk menekan inflasi yang mencapai rekor tertinggi. Lonjakan inflasi terjadi setelah perang Rusia di Ukraina mendorong biaya makanan dan energi meningkat.

Diperkirakan naik 0,5 persen

Setelah dua kenaikan suku bunga berturut-turut sebesar 0,75 persen, para pembuat kebijakan di Frankfurt diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,5 persen dalam pertemuan terakhir ECB pada 2022.

Sejumlah analis menilai, data inflasi terbaru bisa menjadi dasar untuk memperlambat laju pengetatan. Data tersebut menunjukkan harga konsumen di zona euro secara tidak terduga melambat pada November untuk pertama kalinya dalam 17 bulan, menjadi 10 persen.

Ekonom ING, Carsten Brzeski, menyebut perkembangan itu sebagai “hadiah Natal awal” yang dapat “menghilangkan beberapa urgensi untuk melanjutkan kenaikan suku bunga jumbo,” meski ia menilai kenaikan 0,75 persen “masih mungkin diberlakukan.”

Sinyal mendekati puncak inflasi

Ekonom utama ECB, Philip Lane, juga mengisyaratkan laju kenaikan yang sedikit kurang agresif ketika mengatakan pekan lalu bahwa “kemungkinan kita mendekati puncak inflasi.”

Kenaikan setengah persen yang diperkirakan akan dipilih ECB itu mencerminkan langkah Federal Reserve pada Rabu (14/12), setelah sebelumnya empat kali menaikkan suku bunga sebesar 0,75 persen.

Menjaga keseimbangan antara inflasi dan risiko ekonomi

Para bankir sentral di berbagai negara saat ini berupaya menyeimbangkan kebutuhan menaikkan biaya pinjaman untuk mendinginkan inflasi, dengan kehati-hatian agar kebijakan tersebut tidak menekan permintaan secara berlebihan hingga memicu penurunan ekonomi.