Sejumlah lembaga ekonomi dan keuangan besar dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 tetap stabil. Meski demikian, ekonomi dunia masih menghadapi berbagai potensi risiko, terutama yang berkaitan dengan konflik perdagangan dan ketidakstabilan politik.
Dalam laporan prospek ekonomi global yang diumumkan pada akhir Oktober 2024, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 tumbuh 3,2%. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) serta Bank Dunia (WB) juga menyampaikan proyeksi di kisaran sekitar 3%, bahkan dapat mencapai 3,3%.
Harapan terhadap pertumbuhan yang stabil pada 2025 ditopang oleh capaian ekonomi sepanjang 2024. Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, menilai pemulihan ekonomi global pada 2024 cukup menonjol, seiring inflasi di banyak perekonomian besar yang menurun mendekati target 2% bank sentral, sementara pertumbuhan dinilai tetap bertahan.
Kenaikan suku bunga yang tinggi dalam dua tahun terakhir untuk menekan inflasi juga tidak memicu resesi kuat seperti yang dikhawatirkan sebagian kalangan. Pada saat yang sama, belanja sektor jasa dan kebutuhan tenaga kerja dilaporkan masih meningkat. Sejak paruh kedua tahun lalu, Federal Reserve (Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menurunkan suku bunga secara bertahap, dan skenario “pendaratan lunak”—penurunan tekanan inflasi tanpa memicu resesi—dinilai berpeluang tercapai.
Namun, sejumlah pakar tetap berhati-hati. Inflasi di banyak perekonomian besar disebut belum sepenuhnya mencapai target 2% dan bahkan cenderung meningkat tipis pada beberapa bulan terakhir. Karena itu, kebijakan suku bunga diperkirakan akan berjalan lebih perlahan, sembari memantau ketat berbagai risiko terhadap pertumbuhan.
Dalam pidato kebijakan terbaru pada akhir tahun, Ketua Fed Jerome Powell dan Presiden ECB Christine Lagarde menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan perjuangan melawan inflasi telah tuntas. Keduanya juga menyinggung adanya banyak faktor sulit diprediksi terkait konflik perdagangan pada tahun mendatang, sehingga laju penurunan suku bunga diperkirakan lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Dalam proyeksi pertumbuhan global 2025, OECD menjadi salah satu yang paling optimistis dengan perkiraan 3,3%, disusul IMF 3,2%. Dua bank besar Amerika Serikat, Morgan Stanley dan Goldman Sachs, lebih berhati-hati dengan proyeksi masing-masing 3% dan 2,7%.
Untuk negara tertentu, Tiongkok diperkirakan tumbuh 4,7% menurut OECD dan 4,5% menurut WB. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Eurozone diproyeksikan 1,3%, dan Jepang 1,5%.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai arah ekonomi global pada 2025 sangat dipengaruhi oleh “variabel” Amerika Serikat. Kepala ekonom Morgan Stanley, Seth Carpenter, menilai hasil pemilu AS dengan kemenangan Donald Trump berpotensi memicu perubahan kebijakan yang dampaknya dapat menyebar ke ekonomi global.
Goldman Sachs memperkirakan PDB Eurozone pada 2025 bisa hanya tumbuh 0,8% akibat kebijakan tarif dan ketentuan baru dari AS, khususnya jika konflik perdagangan terjadi. Sementara itu, S&P Global memproyeksikan Tiongkok juga sulit menghindari dampak tarif dari pemerintahan baru AS, sehingga pertumbuhan PDB pada tahun depan diperkirakan hanya 4,1%.
Risiko perang dagang juga dinilai dapat berbalik menekan ekonomi AS sendiri apabila penerapan tarif tinggi memicu konflik perdagangan berskala besar. Goldman Sachs memperkirakan, jika ketidakstabilan perdagangan meningkat ke level tinggi seperti periode 2018–2019, PDB AS dapat turun 0,3%, sementara Eurozone dan Tiongkok masing-masing berpotensi turun 0,9% dan 0,7%.
Namun, lembaga riset Capital Economics dari Inggris menilai krisis konflik perdagangan saat ini masih berada pada tingkat rata-rata. Menurut mereka, langkah balasan dari negara lain kemungkinan akan disusun untuk menghindari eskalasi ketegangan dengan AS.

