BERITA TERKINI
Era Divergensi Kebijakan Moneter Dimulai: Fed Tahan Suku Bunga, ECB Pangkas, Pasar Menanti Dampak Tarif Trump

Era Divergensi Kebijakan Moneter Dimulai: Fed Tahan Suku Bunga, ECB Pangkas, Pasar Menanti Dampak Tarif Trump

Keputusan terbaru Federal Reserve (Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) menandai babak baru bagi pasar global: arah kebijakan moneter bank sentral utama kini tidak lagi bergerak serempak. Fed memilih menahan suku bunga, sementara ECB kembali memangkas suku bunga seperempat poin. Perbedaan langkah ini terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian terkait rencana tarif Presiden AS Donald Trump yang berpotensi mengubah neraca perdagangan serta memicu tekanan inflasi.

Pada pertemuan awal tahun 2025, sinyal yang muncul menunjukkan jalur kebijakan yang makin terpisah. Amerika Serikat diperkirakan mempertahankan suku bunga, zona euro melanjutkan pelonggaran, dan Jepang berada dalam fase kenaikan suku bunga. Ini berbeda dari tahun sebelumnya ketika banyak bank sentral di negara maju cenderung melonggarkan kebijakan secara berhati-hati.

Ketua Fed Jerome Powell menegaskan pendekatan yang lebih berhati-hati. Dalam konferensi pers setelah keputusan menahan suku bunga, ia menekankan sikap “tunggu dan lihat” serta menyatakan tidak terburu-buru mengubah kebijakan. Di sisi lain, Presiden ECB Christine Lagarde menyampaikan bahwa arah suku bunga di Eropa masih cenderung turun, meski kecepatan dan urutan langkah berikutnya akan ditentukan oleh data ekonomi yang masuk.

Perbedaan nada ini juga mencerminkan kondisi ekonomi yang tidak sama di kedua sisi Atlantik sejak lonjakan inflasi pascapandemi. Inflasi sempat menjadi fenomena global akibat gangguan rantai pasok, direspons dengan kenaikan suku bunga agresif. Namun pemicunya berbeda: di kawasan euro, invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 mendorong inflasi energi, sedangkan di AS tekanan harga lebih dipengaruhi permintaan yang didorong belanja fiskal. Setelah inflasi mereda, AS tetap tumbuh di atas tren, sementara Eropa berada dekat risiko resesi.

Di tengah divergensi ini, pasar juga dibayangi rencana tarif Trump. Ia mengonfirmasi tarif 25% atas impor dari Kanada dan Meksiko mulai 1 Februari, dengan alasan defisit perdagangan yang besar serta menuding kedua negara tidak cukup menekan pengiriman fentanil dan arus migran ke perbatasan AS. Kebijakan tarif ini dinilai dapat mendorong inflasi dan pada akhirnya berpotensi memaksa bank sentral merespons dengan kebijakan suku bunga yang lebih ketat—sebuah konsekuensi yang berlawanan dengan keinginan Trump yang menyerukan penurunan suku bunga.

Trump juga kembali mengancam negara-negara BRICS dengan tarif 100% jika mereka mencoba menciptakan mata uang baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar AS sebagai cadangan. Kelompok BRICS—yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, serta Indonesia—tidak memiliki mata uang bersama, namun isu ini kerap muncul dalam pembahasannya.

Rincian kebijakan tarif AS terhadap mitra dagang lain masih belum jelas. Untuk China, wacana tarif tinggi sempat mencuat, lalu setelah percakapan telepon yang disebut “ramah” dengan Xi Jinping, angkanya disebut turun menjadi 10% secara hipotetis. Sementara itu, Uni Eropa juga menunggu sinyal lebih lanjut setelah Trump menyebut perlakuan Eropa terhadap AS “sangat, sangat buruk” dan menyoroti defisit perdagangan AS dengan Uni Eropa.

Lagarde memperingatkan bahwa ketegangan dagang baru dapat menekan pertumbuhan zona euro yang sudah lemah. Ia menyatakan risiko pertumbuhan masih condong ke arah negatif dan dampaknya diperkirakan merugikan secara global. Dari Kanada, Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem juga menilai konflik dagang yang berkepanjangan dan berskala besar akan sangat merusak aktivitas ekonomi negaranya, saat ia menyampaikan pemangkasan suku bunga keenam berturut-turut dan menurunkan proyeksi pertumbuhan.

Divergensi kebijakan moneter dan ancaman tarif ikut mengangkat dolar AS terhadap banyak mata uang. Dolar sempat menyentuh level tertinggi dua tahun terhadap sekeranjang mata uang utama bulan lalu, meski belakangan sedikit melemah. Namun dolar yang terlalu kuat juga berpotensi menjadi masalah bagi agenda perdagangan Trump karena membuat impor ke AS lebih murah, sementara ia ingin mendorong “penyeimbangan kembali” perdagangan global yang menguntungkan AS, terutama setelah defisit perdagangan AS mencetak rekor pada akhir 2024.

Mata uang yang paling tertekan dalam konteks tarif adalah dolar Kanada dan peso Meksiko. Dolar Kanada berada dekat level terendah lima tahun sekitar 1,4490 per dolar AS. Peso Meksiko berupaya pulih dari penurunan tajam, namun masih berada di kisaran 20,6849 per dolar. Euro juga menghadapi banyak ketidakpastian—mulai dari dinamika politik Eropa, perang di Ukraina, hingga potensi tarif AS—dan diperdagangkan di sekitar 1,02–1,04 per dolar, dekat level terendah dua tahun di 1,0177 yang tercatat awal pekan.

Tekanan juga terlihat pada yuan, seiring kekhawatiran tarif atas produk China. Bank sentral China menetapkan paritas sentral 7,1703 per dolar, memperkuatnya 183 basis poin ke level terkuat sejak 8 November 2024. Nilai ini disebut berada jauh di atas ekspektasi pasar, di tengah pandangan bahwa depresiasi yuan bisa menjadi salah satu cara meredam dampak tarif AS terhadap ekspor China.

Ketidakpastian pasar dan kekhawatiran inflasi mendorong investor mencari aset aman, terutama emas. Harga emas mencetak rekor baru, naik 1,4% menjadi US$2.798,59 per ons dan melampaui puncak sebelumnya pada Oktober. Di London, waktu tunggu penarikan emas batangan dari brankas Bank of England dilaporkan meningkat dari hitungan hari menjadi 4–8 minggu, seiring meningkatnya pengiriman ke Amerika Serikat. Para pedagang disebut menimbun stok besar di New York di tengah kekhawatiran tarif AS juga dapat memengaruhi pasar emas.

Di dalam negeri, AS menghadapi dilema tersendiri: bagaimana meningkatkan kinerja ekonomi yang sudah berada dekat kondisi kesempatan kerja penuh, dengan output dan pertumbuhan mendekati atau di atas potensi. Manufaktur AS tumbuh 2,8% pada 2024, dan produk domestik bruto telah tumbuh jauh di atas 1,8% yang dipandang sebagai potensi jangka panjang ekonomi, sementara inflasi disebut hampir terkendali.

Dengan arah kebijakan moneter yang makin berbeda dan risiko perang dagang yang kembali menguat, pasar kini menanti kejelasan langkah tarif berikutnya dan bagaimana bank sentral akan menyeimbangkan pertumbuhan, inflasi, serta stabilitas keuangan dalam lanskap global yang kian terfragmentasi.