BERITA TERKINI
Harga Minyak Menguat, Bursa Asia Diproyeksi Dibuka Melemah

Harga Minyak Menguat, Bursa Asia Diproyeksi Dibuka Melemah

Bursa saham Asia diperkirakan dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/3), melanjutkan volatilitas pasar yang terjadi sepanjang sepekan terakhir. Kenaikan harga minyak berlanjut meski negara-negara maju melakukan langkah terkoordinasi untuk melepas cadangan minyak darurat, sementara penurunan harga obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menandakan kekhawatiran inflasi masih membayangi pasar.

Pada awal perdagangan di Asia, kontrak berjangka (futures) indeks saham di Jepang, Australia, dan Hong Kong bergerak di zona merah. Di Wall Street pada Rabu, indeks S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq 100 bergerak stagnan. Tren negatif berlanjut pada Kamis pagi seiring kontrak ekuitas AS kembali melemah.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS melampaui US$91 per barel meskipun Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati pelepasan 400 juta barel dari cadangan darurat, yang disebut sebagai penyaluran terbesar sepanjang sejarah. Jepang juga akan melepas 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.

Reaksi pasar terlihat lebih tajam di sektor obligasi. Harga Treasury jatuh secara merata, mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun naik tujuh basis poin menjadi 4,23% pada Rabu. Data inflasi yang melandai sebelum pecahnya konflik dinilai belum cukup menenangkan pasar, karena investor khawatir lonjakan biaya energi akan memicu kenaikan harga di berbagai sektor ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar saat ini memprediksi Federal Reserve hanya akan memangkas suku bunga satu kali pada tahun ini.