Konflik dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap produk impor dari China. Beijing merespons dengan pernyataan keras dan menyiapkan langkah balasan, memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya risiko ketidakstabilan finansial global.
Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang membalas kebijakan tarif AS akan menghadapi tarif tambahan yang disebutnya “baru dan jauh lebih tinggi”. Pernyataan ini muncul setelah China sebelumnya menaikkan bea masuk terhadap barang-barang asal AS.
Menanggapi ancaman tersebut, China menyatakan siap melakukan retaliasi ekonomi. Sejumlah opsi yang disiapkan Beijing mencakup peningkatan tarif atas produk-produk AS, pembatasan ekspor mineral penting, serta sanksi terhadap perusahaan AS yang beroperasi di China.
Ketegangan terbaru ini langsung berdampak pada pasar global. Indeks-indeks utama di Wall Street sempat terkoreksi, sementara pasar Asia juga melemah seiring meningkatnya kekhawatiran investor atas eskalasi perang dagang. Para ekonom menilai situasi ini berpotensi mengganggu rantai pasok global, mendorong inflasi di kedua negara, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Perkembangan ini mengingatkan pada perang dagang periode 2018–2020 ketika Trump menerapkan tarif besar-besaran terhadap barang China. Saat itu, pasar global mengalami fluktuasi tinggi, inflasi meningkat, dan harga barang konsumen ikut terdorong naik. Kini, investor kembali menghadapi kekhawatiran serupa, dengan risiko yang dinilai dapat membesar jika kebijakan saling balas terus berlanjut.
Analis memperkirakan China akan memanfaatkan beragam instrumen ekonomi untuk merespons tekanan tarif. Salah satu strategi yang disebut berpotensi digunakan adalah penyesuaian nilai tukar yuan agar ekspor tetap kompetitif. Selain itu, China juga diperkirakan memperluas kemitraan dagang dengan negara-negara berkembang sebagai upaya diversifikasi.
Retaliasi China terhadap kebijakan tarif AS dinilai tidak hanya menjadi isu bilateral, melainkan juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global. Ketidakpastian yang meningkat dapat memengaruhi keputusan investasi, rantai pasok lintas negara, serta daya beli konsumen. Situasi ini diperkirakan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam waktu dekat.

