Jakarta — Kinerja keuangan sejumlah emiten di sektor pertambangan mineral dan logam mulia kembali menjadi perhatian pelaku pasar seiring rilis data keuangan terbaru. Sejumlah perusahaan mencatat pendapatan dan laba bersih yang bervariasi, yang pada gilirannya turut memengaruhi metrik valuasi saham masing-masing emiten di bursa.
Dari sisi pendapatan, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi yang terbesar dengan membukukan pendapatan Rp 84,64 triliun dan laba bersih Rp 7,21 triliun. Di bawahnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatat pendapatan Rp 44,54 triliun dengan laba Rp 978,5 miliar.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melaporkan pendapatan Rp 30,99 triliun dan laba bersih Rp 4,72 triliun. Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pendapatan Rp 23,91 triliun dengan laba bersih Rp 1,36 triliun.
Entitas anak BUMI, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), membukukan pendapatan Rp 4,18 triliun dan laba Rp 839,3 miliar. Adapun PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melaporkan pendapatan Rp 8,33 triliun dengan laba bersih Rp 1,71 triliun.
Dari sisi valuasi, pelaku pasar kerap menilai kewajaran harga saham melalui rasio price to earnings (PER), yang membandingkan harga saham dengan laba per saham (earnings per share/EPS). Dalam analisis ini, EPS dihitung dengan membagi total laba bersih dengan jumlah saham beredar berdasarkan data historis di Bursa Efek Indonesia.
Merujuk pada harga saham terkini, valuasi pasar menunjukkan rentang yang bervariasi. Di antara emiten yang dibahas, HRTA dan ANTM tercatat memiliki rasio PER yang lebih rendah, masing-masing sebesar 11,86 kali dan 12,46 kali.
Catatan: Informasi ini merupakan ulasan berbasis data dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pembaca.