Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan tidak terjadi kepanikan berlebihan di pasar modal domestik, meski konflik geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak global dan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). OJK menilai respons investor masih relatif rasional di tengah volatilitas yang meningkat.
Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan dinamika global sepanjang 2026 memberi tekanan besar terhadap pasar keuangan. Faktor yang disebut antara lain fragmentasi geopolitik dan geoekonomi, serta eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah.
Hasan menyebut pergerakan saham sempat sangat fluktuatif pada akhir Januari, ketika pasar menghadapi sentimen negatif yang tinggi. Meski demikian, ia menilai aktivitas transaksi masih menunjukkan ketahanan. Ia mencatat rerata nilai transaksi harian (RNTH) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir tahun lalu hingga saat ini mencapai sekitar Rp 30 triliun, atau naik 65,31 persen dibandingkan periode tahun lalu yang sekitar Rp 18 triliun.
Tekanan kembali meningkat pada awal Maret seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang mendorong penurunan indeks secara signifikan. Namun, OJK menilai situasi saat ini berbeda dengan kondisi saat krisis pandemi Covid-19, ketika kepanikan tercermin dari fenomena one-sided market, yakni pasar yang didominasi aksi jual tanpa adanya lawan transaksi yang bersedia membeli.
Menurut Hasan, sejak awal tahun hingga perkembangan terbaru terkait perang di Iran, pasar masih tergolong tenang. Ia mengatakan RNTH tetap berada pada level normal yang tinggi dan tidak terjadi perdagangan satu arah.
Di tengah koreksi harga, Hasan menyebut investor asing memanfaatkan momentum penurunan untuk melakukan akumulasi pembelian secara selektif pada saham-saham tertentu. Ia juga mencatat pada Maret terjadi pembalikan arus modal asing menjadi beli bersih sebesar Rp 2,23 triliun, meski secara year to date investor asing masih tercatat net sell.
Hasan menambahkan, gejolak pasar tetap dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari pandangan penyedia indeks global, siklus peninjauan lembaga pemeringkat internasional, hingga dampak ekonomi konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dunia. Ia menilai kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan pada posisi fiskal dan moneter Indonesia.
Meski IHSG terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun, Hasan menegaskan fundamental aktivitas pasar modal domestik dinilai masih kuat. Menurutnya, tingginya angka transaksi menunjukkan pasar tetap berjalan dengan likuiditas yang terjaga di tengah berbagai sentimen global.

