Pasar saham di berbagai negara bergejolak dalam beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran bahwa banyak negara akan terdampak regulasi tarif resiprokal yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: apa arti situasi ekonomi saat ini bagi kehidupan dan keuangan mereka?
Pada Senin (07/04), pasar saham di Asia—dari Shanghai hingga Tokyo serta dari Sydney hingga Hong Kong—anjlok ke level terendah dalam beberapa dekade. Gejolak serupa juga terjadi di Eropa, di mana sejumlah bank dan perusahaan mencatat penurunan besar. Pasar saham Amerika Serikat turut melemah dan disebut menjadi kondisi terburuk sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Realitas di banyak bursa tersebut diyakini berkaitan dengan kebijakan baru Trump mengenai tarif impor barang ke AS, yang berkisar antara 10% hingga 46% untuk berbagai negara. Sejumlah ekonom memperingatkan gejolak pasar saham dapat memengaruhi masyarakat dalam beberapa bentuk, mulai dari risiko pekerjaan hingga ketidakpastian ekonomi yang lebih luas.
1) Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK)
Jika harga saham jatuh dalam jangka waktu lama, lapangan pekerjaan dapat ikut terpukul. Ketika investor menanamkan modal pada sebuah perusahaan, mereka umumnya mengharapkan keuntungan. Apabila harga saham perusahaan terus merosot, investor dapat menuntut perusahaan mengambil langkah untuk menghentikan penurunan lebih lanjut, salah satunya dengan memangkas biaya melalui PHK.
Namun, Profesor Ekonomi University College London, Morten Ravn, menilai pengusaha saat ini “akan sangat enggan untuk memberhentikan pegawai mereka”, kecuali jika mereka benar-benar meyakini situasi akan memburuk dan kenaikan tarif tidak akan dibatalkan. Meski demikian, ia menambahkan bahwa dalam jangka panjang “cepat atau lambat pengusaha harus membuat keputusan tentang PHK itu”.
2) Ketidakpastian pajak dan suku bunga
Dampak langsung gejolak pasar saham terhadap pajak yang dibayarkan masyarakat, termasuk suku bunga pinjaman, hipotek, dan tabungan, masih belum jelas. Namun, Ravn mengatakan bahwa semuanya berpotensi terpengaruh.
Menurutnya, gejolak pasar dapat menekan keuangan pemerintah. Dalam kondisi demikian, pemerintah mungkin harus mempertimbangkan pengurangan pengeluaran dan kenaikan pajak.
Ravn juga menyebut suku bunga dapat ikut berfluktuasi, bergantung pada sejumlah faktor, termasuk respons masing-masing negara terhadap kebijakan tarif AS. Jika bank sentral memangkas suku bunga, beberapa jenis hipotek bisa menjadi lebih murah, tetapi penabung uang tunai mungkin memperoleh imbal hasil tabungan yang lebih rendah. Sebaliknya, kenaikan suku bunga akan membuat pinjaman lebih mahal, meski dapat meningkatkan imbal hasil bagi penabung.
3) Dampak pada tabungan dana pensiun
Selain kepemilikan saham dan obligasi secara langsung, banyak orang terhubung dengan pasar saham melalui tabungan dana pensiun. Sebagian dana pensiun diinvestasikan melalui saham, sehingga penurunan nilai saham dapat memengaruhi nilai dana pensiun, kata Ravn.
Namun, ia menjelaskan bahwa sebagian kontribusi pensiun juga ditempatkan pada instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah. Nilai dana pensiun pada instrumen ini cenderung meningkat ketika pasar saham jatuh karena obligasi dipandang sebagai “tempat berlindung yang aman”, serupa dengan emas.
Kenaikan nilai obligasi pemerintah dapat mengimbangi sebagian atau seluruh penurunan saham, tergantung pada alokasi investasi dana pensiun seseorang. Ravn menambahkan, semakin dekat seseorang dengan masa pensiun, biasanya semakin besar porsi dana pensiun yang ditempatkan pada obligasi, sehingga dampak gejolak pasar saham cenderung lebih kecil.
4) Kemungkinan resesi
Resesi didefinisikan sebagai penyusutan aktivitas ekonomi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat di suatu negara selama dua periode tiga bulan berturut-turut. Ravn menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah dunia akan memasuki resesi.
“Saya pikir kita perlu melihat apa yang terjadi dalam satu atau dua minggu ke depan. Jika ini meningkat menjadi perang dagang skala penuh dan negara-negara lain membalas AS, saya akan khawatir,” ujarnya.
Jika gejolak pasar saham berkembang menjadi resesi global, Ravn mengatakan risiko kehilangan pekerjaan akan “sangat mungkin terjadi”. Resesi dapat membawa konsekuensi seperti meningkatnya pengangguran. Di sisi lain, sebagian orang bisa lebih sulit mendapatkan promosi atau kenaikan gaji yang cukup besar untuk mengimbangi kenaikan harga.
Ravn menekankan bahwa dampak resesi biasanya tidak dirasakan secara merata. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi.

