BERITA TERKINI
Perang Dagang AS–China Memanas di 2025, Indonesia Diminta Aktif Tangkap Peluang

Perang Dagang AS–China Memanas di 2025, Indonesia Diminta Aktif Tangkap Peluang

Ketegangan ekonomi global pada 2025 kian meningkat seiring berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dipicu kebijakan tarif era Presiden Donald Trump. Situasi ini memunculkan kekhawatiran di banyak negara karena berpotensi mengganggu arus perdagangan dan menambah risiko perlambatan ekonomi dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk mengambil peluang, asalkan mampu merespons dengan kebijakan yang tepat dan perbaikan iklim usaha. Sejumlah langkah yang dapat ditempuh antara lain menarik relokasi industri, memperluas pasar ekspor, hingga mendorong hilirisasi.

Peluang menjadi tujuan baru manufaktur

Perusahaan-perusahaan besar disebut tengah mencari lokasi produksi alternatif agar tidak terjebak langsung dalam konflik dagang. Indonesia berpeluang menjadi pilihan dengan dukungan letak strategis, ketersediaan tenaga kerja, dan pasar domestik yang besar. Namun, peluang ini dinilai bergantung pada pembenahan perizinan, penguatan infrastruktur, serta peningkatan kenyamanan berusaha.

Diversifikasi pasar ekspor

Ketergantungan ekspor pada pasar besar seperti AS dan China berisiko ketika konflik dagang menekan arus perdagangan. Karena itu, Indonesia didorong memperluas tujuan ekspor ke kawasan lain seperti Timur Tengah dan Asia Selatan. Produk Indonesia disebut memiliki kualitas untuk bersaing, dengan catatan akses pasar dan strategi penetrasi diperkuat.

UMKM didorong naik kelas lewat digitalisasi

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dipandang dapat memanfaatkan momentum, terutama dengan dukungan ekosistem digital. Dengan pelatihan, bantuan teknologi, serta pembiayaan yang tepat, produk lokal yang dinilai semakin kompetitif berpeluang menembus pasar internasional.

Penguatan SDM dan inovasi

Daya saing jangka panjang dinilai bertumpu pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya kompeten, tetapi juga kreatif dan adaptif. Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi dibutuhkan untuk menyiapkan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri. Dorongan terhadap riset dan teknologi juga dianggap penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi turut menjadi pencipta inovasi.

Hilirisasi untuk menambah nilai ekspor

Indonesia juga didorong mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Komoditas seperti nikel, sawit, kopi, dan hasil laut dinilai dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bila diolah terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, misalnya nikel yang diproses menjadi komponen baterai kendaraan listrik.

Perang dagang memang berpotensi menambah ketidakpastian global. Namun, situasi ini juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi dalam rantai nilai ekonomi dunia. Sejumlah prasyarat yang ditekankan antara lain keseriusan memberantas korupsi dan praktik mafia perizinan, serta kesiapan masyarakat meningkatkan keterampilan dan beradaptasi dengan teknologi.