BERITA TERKINI
Perang Dagang AS–China Memanas pada 2025: Tarif Balasan, Jeda 90 Hari, dan Dampak Global

Perang Dagang AS–China Memanas pada 2025: Tarif Balasan, Jeda 90 Hari, dan Dampak Global

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali menjadi sorotan internasional pada 2025, setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor tinggi terhadap sejumlah negara, termasuk China. Kebijakan ini memicu aksi balasan dari Beijing dan membuat tensi perdagangan kedua negara meningkat.

Trump mengumumkan penerapan tarif resiprokal bagi negara-negara yang selama ini mengekspor produk ke AS. Dalam kebijakan tersebut, China dikenai tarif impor sebesar 34%. China kemudian merespons dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS yang masuk ke pasar domestiknya.

Merespons langkah China, Trump kembali menaikkan tarif impor terhadap barang-barang China yang masuk ke AS hingga 125%. Kenaikan tarif ini menandai eskalasi terbaru dalam perseteruan dagang kedua negara.

Secara umum, perang dagang merupakan konflik ekonomi antara dua atau lebih negara yang melibatkan pembatasan perdagangan internasional, seperti tarif impor tinggi, kuota impor, dan pembatasan investasi. Konflik semacam ini dapat mengganggu rantai pasokan global, meningkatkan biaya, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tarif impor yang tinggi juga kerap digunakan untuk mendorong konsumsi produk lokal karena dinilai lebih murah dibanding barang impor.

AS dan China sebelumnya pernah terlibat konflik dagang serupa. Sejak 2018, AS menaikkan tarif impor terhadap barang-barang dari China, yang kemudian dibalas oleh pemerintah China dengan kebijakan serupa terhadap produk AS. Konflik tersebut berlangsung sekitar dua tahun sebelum ditutup dengan perjanjian Phase One yang ditandatangani Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Karena AS dan China merupakan dua negara besar dengan pengaruh kuat terhadap perekonomian global, perang dagang keduanya berpotensi menimbulkan efek domino. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga dapat menjalar ke negara lain, termasuk Indonesia. Sejumlah risiko yang disebut dapat muncul apabila konflik berlarut-larut antara lain ancaman inflasi dan perlambatan ekonomi dunia.

Dalam perkembangan terbaru, Gedung Putih melalui akun X menyatakan Trump memberikan jeda selama 90 hari untuk pemberlakuan tarif resiprokal tersebut. Selain penundaan itu, AS juga disebut mengurangi tarif impor sebesar 10% dari yang telah diumumkan sebelumnya untuk negara-negara lain, dengan pengecualian China.

Trump menegaskan tarif resiprokal sebesar 125% tetap diberlakukan untuk China dan berlaku saat itu juga. Ia menyampaikan alasan mempertahankan tarif tinggi tersebut karena menilai China tidak menunjukkan itikad baik, salah satunya dengan tidak menghubungi Gedung Putih seperti yang dilakukan negara-negara lain.

Pemerintah China kemudian meminta AS membatalkan sepenuhnya kebijakan tarif resiprokal. Dalam pernyataan perwakilan kementerian perdagangan China, Beijing mendesak Washington mengambil langkah untuk memperbaiki kesalahan dan kembali pada jalur saling menghormati.