Persaingan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kerap digambarkan melalui konsep “Jebakan Thucydides”, yakni ketegangan antara kekuatan yang sedang naik daun dan kekuatan dominan. Dalam lanskap dunia yang makin multipolar, Asia Tenggara—terutama Indonesia—dipandang sebagai salah satu titik penting dalam dinamika tersebut.
Posisi strategis Indonesia membuatnya bernilai bagi kedua negara adidaya. Tiongkok melihat Indonesia sebagai penghubung Jalur Sutra Maritim, sementara AS memandang Indonesia sebagai penyeimbang demokratis di kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Pemilu 2024 dinilai berpotensi memengaruhi tradisi kebijakan luar negeri Indonesia yang selama ini cenderung menjaga keseimbangan, sekaligus berdampak pada dinamika regional dan masa depan ekonomi. Stabilitas Indonesia pasca-pemilu juga disebut dapat menimbulkan efek riak di tingkat ASEAN.
Anies–Muhaimin: Latar Pendidikan AS dan Upaya Menata Citra
Anies Baswedan kerap dijuluki “Anak Amerika” karena latar pendidikan di Amerika Serikat. Kenaikannya dari Gubernur Jakarta—dengan dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)—menuju pencalonan presiden dinilai menunjukkan lintasan yang tampak dekat dengan kepentingan AS.
Kunjungan Duta Besar AS ke kantor PKS pada 2023 disebut dapat dibaca sebagai dukungan implisit. Namun, berkurangnya dukungan terbuka setelah hasil jajak pendapat Anies dinilai kurang kuat dipandang lebih mencerminkan pragmatisme politik ketimbang ikatan yang solid.
Di dalam negeri, Anies disebut makin merangkul komunitas minoritas, termasuk masyarakat Tionghoa. Langkah ini dinilai memperbaiki citra setelah penggunaan politik identitas pada Pilkada DKI Jakarta 2017, sekaligus berpotensi menarik perhatian Tiongkok. Meski demikian, Anies digambarkan tetap berhati-hati agar tidak terlihat terlalu pro-Tiongkok.
Jika Anies–Muhaimin menang, AS diperkirakan dapat kembali memberi perhatian meski sebelumnya sempat ragu. Pendidikan Anies di AS dipandang bukan hanya bersifat akademis, tetapi juga terkait penghargaan pada nilai-nilai demokrasi. Namun, arah hubungan selanjutnya disebut akan sangat ditentukan oleh langkah awal kebijakan luar negeri yang diambil jika ia berkuasa.
Prabowo–Gibran: Sinyal Kedekatan dengan AS dan Kalkulasi Politik Domestik
Pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka digambarkan menandai pergeseran signifikan ke arah Barat, terutama karena relasi Prabowo dengan AS yang disebut telah terjalin sejak era Orde Baru. Pencabutan larangan bepergian bagi Prabowo serta kesepakatan pertahanan yang ditandatangani saat ia menjabat Menteri Pertahanan disebut sebagai indikator penguatan hubungan tersebut.
Masuknya Gibran—putra Presiden Joko Widodo (Jokowi)—dipaparkan sebagai strategi politik domestik. Jokowi kerap dipersepsikan selaras dengan Tiongkok, namun pandangan ini dinilai perlu dibaca lebih dalam. Kedekatan Jokowi dengan Tiongkok disebut terkait dengan relasinya dengan PDI-P dan dinamika partai, sementara tujuan utama Jokowi digambarkan berfokus pada pelestarian warisan politik dan potensi pembentukan dinasti politik. Dalam kerangka itu, Jokowi diperkirakan dapat mengabaikan citra Prabowo yang pro-AS apabila sejalan dengan kepentingan jangka panjangnya, dengan Gibran diposisikan sebagai proksi untuk melindungi kepentingan tersebut.
Secara global, pasangan ini dipandang menawarkan kemitraan yang menarik bagi AS: Prabowo dengan afiliasi Amerika-nya, dan Gibran sebagai simbol kesinambungan era Jokowi. Teks juga menyinggung interaksi Prabowo dengan pejabat AS, termasuk pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS.
Selain itu, kunjungan Jokowi ke AS pada November 2023 disebut menandai penguatan hubungan Indonesia–AS, terutama dalam isu keamanan kawasan Asia Tenggara. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi memperpanjang kontrak Freeport selama 20 tahun, yang disebut akan berakhir pada 2061, sebagai keputusan ekonomi yang signifikan.
Ganjar–Mahfud: Potensi Penguatan Arah ke Tiongkok
Ganjar Pranowo–Mahfud MD yang diusung PDI-P dipaparkan berada dalam konteks hubungan PDI-P dengan Tiongkok yang disebut mendalam dan berakar pada relasi historis serta ideologis. Hubungan PDI-P dengan Partai Komunis Cina (CPC), termasuk pertukaran pelatihan kader yang dilaporkan, disebut membuat pencalonan Ganjar memiliki arti khusus. Teks juga menyebut bahwa perselisihan antara Jokowi dan PDI-P dapat mendorong sikap yang lebih tegas dari partai.
Ketertarikan Tiongkok pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ditambah ikatan historis PDI-P, disebut dapat memposisikan partai ini sebagai mitra yang disukai untuk investasi Tiongkok di IKN. Dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan, Ganjar dipaparkan berpotensi memanfaatkan kedekatan PDI-P dengan Beijing untuk keuntungan diplomatik dan ekonomi.
Namun, bersandar terlalu dekat dengan Tiongkok disebut memiliki kelemahan. Ganjar dinilai perlu memprioritaskan kepentingan Indonesia agar otonomi strategis nasional tetap terjaga. Di saat yang sama, dinamika pasca pemilu antara PDI-P dan Jokowi disebut perlu dicermati, dan Tiongkok diperkirakan akan berhati-hati sembari menilai lanskap politik sebelum membuat komitmen besar.
Taruhan Geopolitik di Tengah Prioritas Isu Domestik
Dalam kesimpulan teks, Prabowo disebut memiliki momentum paling besar, terutama setelah menggandeng Gibran. Meski Jokowi menyatakan netral, ia diperkirakan memberikan dukungan tidak langsung kepada Prabowo, bahkan jika itu berseberangan dengan PDI-P.
Meski demikian, pemilu dinilai tidak akan ditentukan semata oleh isu kebijakan luar negeri. Bagi banyak pemilih Indonesia, isu ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur disebut lebih mendesak. Ganjar dan Anies disebut dapat menunjukkan pencapaian pemerintahan lokal, sementara Prabowo disebut memiliki basis dukungan kuat di Sumatra Barat dan Jawa Barat.
Namun, teks menilai sebagian publik tetap melihat kandidat melalui lensa relasi mereka dengan AS dan Tiongkok. Indonesia disebut lama berada dalam posisi tidak nyaman di antara dua kekuatan besar, sehingga kecurigaan bahwa seorang kandidat terlalu dekat dengan salah satu pihak berpotensi menimbulkan pengawasan. Di sisi lain, Washington dan Beijing juga disebut akan mengamati kampanye secara saksama untuk mencari keuntungan di negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.
- Indonesia dipandang strategis dalam persaingan AS–Tiongkok di Indo-Pasifik.
- Anies–Muhaimin dikaitkan dengan latar pendidikan AS dan penataan citra domestik.
- Prabowo–Gibran digambarkan memiliki sinyal kedekatan kuat dengan AS serta kalkulasi politik internal.
- Ganjar–Mahfud dipaparkan berpotensi memperkuat relasi dengan Tiongkok melalui kanal PDI-P.

