BERITA TERKINI
Saling Tolak Wartawan Jadi Cermin Memanasnya Relasi India-China

Saling Tolak Wartawan Jadi Cermin Memanasnya Relasi India-China

Jumlah wartawan India yang bertugas di China kian menyusut dalam beberapa bulan terakhir, seiring keputusan Beijing yang meminta sejumlah jurnalis India meninggalkan negara itu. Situasi ini muncul di tengah hubungan India-China yang masih dibayangi ketegangan perbatasan dan dampak lanjutan dari bentrokan pada 2020.

Empat wartawan diminta meninggalkan China

Hingga awal tahun ini, tercatat masih ada empat wartawan India yang bertugas di China. Namun pada April, jumlah itu berkurang menjadi dua setelah seorang wartawan radio Prasar Bharati dan seorang jurnalis The Hindu diminta meninggalkan China.

Pekan lalu, wartawan The Hindustan Times menjadi jurnalis India ketiga yang dipaksa keluar dari China. Menyusul kemudian wartawan keempat dari Press Trust of India (PTI), yang diberi waktu hingga akhir Juni 2023 untuk meninggalkan China.

Alasan yang disampaikan adalah visa para wartawan tersebut sudah tidak berlaku sehingga mereka tidak lagi diperbolehkan bekerja di China.

China menilai India lebih dulu membatasi wartawan China

China menyatakan langkah itu ditempuh karena menganggap India sebelumnya bersikap tidak adil dan diskriminatif terhadap wartawan China yang bertugas di India. Menurut pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin, sejak 2020 India dinilai tidak memperpanjang visa wartawan China.

Akibat kebijakan tersebut, jumlah wartawan China di India disebut menyusut drastis dari 14 orang menjadi hanya satu koresponden. Wang menyayangkan pihak India dinilai tidak mengambil langkah untuk memperbaiki situasi.

Lebih dari sekadar urusan administratif

Meski tampak sebagai persoalan visa, rangkaian peristiwa saling menolak wartawan ini dipandang terkait dengan dinamika hubungan kedua negara yang memanas dalam beberapa tahun terakhir. India dan China kerap berupaya menampilkan hubungan yang tidak saling bertentangan, namun ketegangan tetap terasa, terutama setelah pandemi COVID-19 ketika China dipandang semakin agresif oleh sebagian kalangan.

India, yang memiliki perbatasan darat sekitar 3.500 km dengan China, menjadi salah satu negara yang merasakan langsung dampak perselisihan tersebut.

Akar ketegangan: bentrokan di Ladakh dan sengketa perbatasan

Tahun 2020 menjadi titik penting memburuknya hubungan India-China. Pada 5 Mei 2020, pasukan kedua negara saling berhadapan di sepanjang Line of Actual Control (LAC). Bentrokan fisik tanpa senjata kemudian terjadi pada 15 dan 16 Juni 2020 di Ladakh timur dan menewaskan sejumlah tentara dari kedua pihak.

Perselisihan itu disebut bermula dari keberatan pasukan China terhadap upaya India membangun jalan di lembah Sungai Galwan di Ladakh timur. Ladakh merupakan bagian timur kawasan Kashmir, wilayah yang juga disengketakan, termasuk dengan Pakistan dan China.

LAC sendiri merupakan garis demarkasi untuk wilayah perbatasan yang disengketakan India dan China. Konsep LAC dicetuskan pada 1959 oleh Perdana Menteri China Zhou Enlai namun ditolak oleh Perdana Menteri India saat itu, Jawaharlal Nehru. LAC kemudian dipakai sebagai rujukan garis perbatasan setelah Perang India-China pada 1962.

Sengketa wilayah yang belum selesai

Hingga kini, India dan China belum mencapai kata sepakat mengenai perbatasan. India mengklaim Aksai Chin di sebelah timur Ladakh sebagai wilayahnya, sementara China mengklaim Arunachal Pradesh di India tenggara sebagai wilayahnya.

Dampak meluas: siber, aplikasi, investasi, dan proyeksi kekuatan

Ketegangan pada 2020 juga merembet ke ranah lain. Sepekan setelah bentrokan, peretas-peretas China disebut melancarkan 40.300 serangan siber ke ruang siber India.

India kemudian mengambil sejumlah langkah, antara lain melarang TikTok dan sejumlah aplikasi China dengan alasan melindungi keamanan data dan ruang siber. India juga mengharuskan adanya persetujuan pemerintah sebelum investasi asing langsung (FDI), khususnya dari China, masuk ke sektor-sektor sensitif.

Selain itu, India meningkatkan proyeksi kekuatan militernya, tidak hanya di Samudera Hindia tetapi juga hingga wilayah seperti Laut China Selatan. India juga mempercepat pembangunan infrastruktur di sepanjang perbatasan dengan China untuk menunjang mobilitas militer dan mengurangi ketertinggalan wilayah perbatasan dibanding wilayah China.

Hubungan disebut “tidak normal”

Ketegangan perbatasan turut memengaruhi pernyataan politik kedua negara. Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menegaskan hubungan India-China berada dalam keadaan tidak normal. Ia menyatakan persahabatan India-China hanya dapat terwujud apabila tidak ada lagi serangan di perbatasan kedua negara.

Di sisi lain, India juga meningkatkan kerja sama dalam kerangka Dialog Keamanan Quadrilateral (Quad) bersama Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. India turut memperluas pengaruhnya hingga Pasifik Selatan, kawasan tempat China juga aktif. Dalam pertemuan dengan pemimpin 14 negara Pasifik Selatan pada 22 Mei 2023, Perdana Menteri India Narendra Modi menjanjikan India sebagai mitra andal bagi negara-negara yang menghadapi krisis pasokan dan perubahan iklim.

Upaya menurunkan tensi, tetapi pasukan masih menumpuk

China, dengan postur ekonomi dan politik yang besar, disebut tidak menginginkan ketegangan dengan India berkembang menjadi front baru. Sejumlah upaya meredakan tensi juga mencuat, termasuk melalui editorial Global Times yang meminta kedua negara mengesampingkan masalah perbatasan demi memajukan hubungan bersahabat dan kerja sama di bidang lain, termasuk hubungan masyarakat dan antarmedia.

Global Times menilai pembatasan kerja wartawan hanya akan memperdalam kesalahpahaman dan pada akhirnya merusak hubungan India-China.

Namun, ketegangan masih terasa di sepanjang LAC. Kedua negara disebut menempatkan pasukan dalam jumlah besar, sekitar 50.000 hingga 60.000 tentara, lengkap dengan wahana tempur masing-masing. Kondisi ini membuat hubungan India-China berpotensi memanas sewaktu-waktu dan dapat memunculkan persoalan geopolitik baru di Asia Selatan maupun Asia secara keseluruhan.

Ketegangan yang menentukan arah keamanan kawasan

Perkembangan cara India dan China menjembatani perbedaan serta mencari solusi atas konflik mereka dinilai penting untuk diikuti. Dinamika itu dapat memengaruhi kecenderungan hubungan keamanan di Asia, bahkan kawasan Indo-Pasifik, di tengah situasi regional yang sudah dihadapkan pada berbagai masalah lain.