BERITA TERKINI
Sistem Ekonomi Nasional dan Dampaknya bagi Gen Z di Tengah Tekanan “In This Economy”

Sistem Ekonomi Nasional dan Dampaknya bagi Gen Z di Tengah Tekanan “In This Economy”

Ungkapan “In this economy??” kerap muncul di media sosial saat warganet membahas hal-hal yang terasa makin sulit diwujudkan, seperti membeli rumah, membeli mobil, atau sekadar menabung untuk liburan. Di balik keluhan itu, ada isu yang sering luput dibahas secara serius: bagaimana sistem ekonomi nasional bekerja dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.

Secara sederhana, sistem ekonomi nasional adalah seperangkat aturan yang mengatur cara perekonomian suatu negara berjalan. Aturan ini menjelaskan siapa yang mengendalikan sumber daya, bagaimana barang diproduksi, serta bagaimana hasil produksi didistribusikan kepada masyarakat.

Setiap negara memiliki pendekatan berbeda. Ada negara yang menganut kapitalisme dan memberi ruang luas bagi pasar bebas. Ada pula yang memilih sosialisme dengan kontrol pemerintah yang dominan. Di antara keduanya, banyak negara menerapkan sistem campuran: pasar tetap bergerak, tetapi pemerintah hadir lewat regulasi. Indonesia memiliki pendekatan khas yang dikenal sebagai Sistem Ekonomi Pancasila, yang menekankan keseimbangan antara kompetisi dan kerja sama, nilai kekeluargaan, serta keadilan sosial.

Dalam praktiknya, sistem ekonomi nasional melibatkan sejumlah elemen penting. Di dalamnya ada pelaku ekonomi seperti pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Ada pula kebijakan—berupa undang-undang atau peraturan—yang menjadi pedoman aktivitas ekonomi. Seluruh rancangan tersebut diarahkan pada tujuan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Meski terdengar konseptual, dampak sistem ekonomi nasional terasa langsung, terutama bagi generasi muda. Arah kebijakan ekonomi ikut menentukan peluang kerja dan karier, termasuk di sektor startup, ekonomi kreatif, dan teknologi. Ketika sistem berjalan sehat, ruang berkembang bagi anak muda cenderung lebih terbuka.

Pengaruh lainnya terlihat pada harga kebutuhan harian, dari makanan dan transportasi hingga gaya hidup seperti kopi dan kuota internet. Perubahan harga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk inflasi, subsidi, dan pajak. Bagi calon wirausaha, sistem ekonomi juga menentukan akses permodalan, kemudahan regulasi, serta peluang ekspor produk lokal. Di era AI dan digital, arah investasi pada teknologi dan pendidikan turut membentuk kualitas keterampilan serta daya saing generasi muda.

Namun, di tengah kondisi ekonomi saat ini, sejumlah tantangan menjadi sorotan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,76%, sementara pengangguran muda usia 15–24 tahun mencapai 13,14%. Angka itu menggambarkan bahwa persaingan kerja masih ketat, terutama bagi kelompok usia muda yang baru memasuki pasar tenaga kerja.

Di sisi lain, banyak lapangan kerja yang tersedia berada di sektor informal, seperti usaha rumahan, pedagang kecil, atau kerja lepas. Disebutkan pula bahwa penghasilan rata-rata di sektor ini sekitar Rp1,6 juta per bulan, yang dinilai jauh dari standar UMR dan kerap tanpa jaminan kerja yang jelas. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda harus mencari strategi tambahan untuk bertahan, sekaligus menghadapi keterbatasan ruang untuk menabung atau meningkatkan kualitas hidup.

Tantangan berikutnya adalah biaya hidup yang dirasakan terus meningkat. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2025 sebesar 2,37% (dirilis awal Agustus 2025). Sebelumnya, pada Januari 2025, inflasi tahunan berada di level 0,76%. Meski secara angka terlihat relatif terkendali, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari—termasuk makanan, transportasi, dan kebutuhan gaya hidup—disebut tetap terasa kuat, terutama bagi pekerja muda dengan penghasilan terbatas. Dampaknya, daya beli menjadi semakin tertekan.

Tekanan ekonomi juga dikaitkan dengan melemahnya sektor industri manufaktur, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu tulang punggung kelas menengah. Kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) disebut turun dari sekitar 32% pada 2002 menjadi sekitar 19% pada 2024. Penutupan perusahaan besar seperti Sritex, yang mengakibatkan pemutusan hubungan kerja bagi lebih dari 10.000 hingga 11.000 karyawan, menjadi contoh bahwa peluang kerja berkualitas semakin langka. Dalam situasi seperti ini, banyak generasi muda terdorong masuk ke sektor informal karena alternatif pekerjaan berkualitas menipis.

Rangkaian tantangan tersebut memperlihatkan mengapa pembahasan sistem ekonomi nasional relevan bagi Gen Z. Ketika lowongan kerja lebih banyak terkonsentrasi di sektor informal, penghasilan terbatas, sementara harga kebutuhan terasa meningkat, pemahaman terhadap arah kebijakan ekonomi dapat membantu generasi muda membaca situasi dan merencanakan langkah ke depan.

Pada akhirnya, perhatian terhadap sistem ekonomi nasional bukan sekadar urusan konsep di ruang kelas. Ia terkait langsung dengan kesempatan kerja, biaya hidup, dan prospek naik kelas dalam struktur ekonomi. Dalam konteks “in this economy”, memahami cara kerja sistem menjadi salah satu modal penting agar generasi muda tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam masa depan ekonomi Indonesia.