BERITA TERKINI
Transparansi dan Penguatan Tata Kelola Dinilai Jadi Kunci Pasar Modal Indonesia Naik Kelas

Transparansi dan Penguatan Tata Kelola Dinilai Jadi Kunci Pasar Modal Indonesia Naik Kelas

Jakarta — Pasar modal Indonesia dinilai memasuki fase baru transformasi dan reformasi untuk memperkuat daya saing di tingkat global. Arah perubahan itu ditempuh melalui peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, serta perbaikan komunikasi antara regulator, emiten, dan investor.

Semangat tersebut menjadi benang merah dalam diskusi Road to Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2026 bertema “Era Baru Transparansi Pasar Modal” yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai, saat ini merupakan momentum penting bagi pasar modal nasional untuk “naik kelas” dan semakin kompetitif di tingkat global. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara otoritas bursa, emiten, dan investor menjadi kunci untuk memperkuat kepercayaan pasar.

“Ini momentum penting untuk menjadikan pasar modal kita naik kelas, dan itu perlu selalu kita komunikasikan kepada investor, emiten, dan publik,” ujar Jeffrey. Ia menambahkan, forum diskusi seperti IRF dapat membantu meningkatkan pemahaman publik terhadap berbagai kebijakan dan rencana pengembangan yang dilakukan bursa.

Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut karena dinilai menjadi sarana komunikasi positif bagi seluruh ekosistem pasar modal. Ia menekankan pentingnya dialog antara Self-Regulatory Organization (SRO), regulator, emiten, serta investor untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas.

“Ini sangat penting untuk membangun transparansi,” kata Misbakhun.

Pandangan serupa disampaikan Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Eddy Manindo Harahap. Ia menilai forum komunikasi seperti IRF dibutuhkan untuk mendukung pengembangan pasar modal Indonesia yang dinilai memiliki potensi besar di kawasan Asia Tenggara. Eddy juga menekankan bahwa peningkatan transparansi menjadi prasyarat agar bursa domestik mampu bersaing secara global.

“Pasar modal Indonesia memang sudah saatnya naik kelas menjadi bursa yang bersaing di tingkat global. Dan hikmahnya, kita memang perlu lebih transparan,” ujar Eddy.

Dalam diskusi tersebut, peran investor relations juga menjadi sorotan. Founder dan CEO Kitacomm Henny Lestari menyatakan profesi investor relations semakin strategis dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus mempertahankan nilai perusahaan di pasar. Menurutnya, meningkatnya jumlah perusahaan tercatat turut mendorong kebutuhan akan praktisi investor relations yang profesional.

“Investor relations merupakan pintu gerbang perusahaan publik dalam membangun kepercayaan investor sekaligus menjaga nilai perusahaan di pasar,” ujar Henny. Ia berharap Indonesia Investor Relations Forum yang memasuki tahun kedua dapat menjadi wadah untuk memperkuat standar serta pengembangan profesi investor relations di Indonesia.

Road to Indonesia IRF 2026 merupakan rangkaian diskusi awal menuju penyelenggaraan Indonesia Investor Relations Forum 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026. Dalam rangkaian itu, dua diskusi utama direncanakan. Diskusi pertama pada 10 Maret 2026 mengangkat tema “Era Baru Transparansi Pasar Modal”, sedangkan diskusi kedua pada 9 April 2026 akan membahas “Mengupas Tuntas Ambang Batas Kebijakan Baru Free Float”.

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai forum komunikasi seperti ini penting untuk menjaga kualitas informasi di pasar. Menurutnya, keterbukaan informasi antara regulator, investor, dan emiten dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi yang lebih rasional.

“Komunikasi yang baik akan memudahkan dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.